Bonek melepas flare di Stadion Gelora Bung Tomo (Persebaya)
Catatan Persebaya
Jangan Lagi Ada Flare di Antara Kita

Oleh : Ram Surahman

Jangan terbang tinggi karena dipuji. Sejatinya puja puji itu menjadi racun bila salah menyikapi. Tetaplah membumi karena kerja belum selesai. 

Sederet kata bijak itu pantas kita renungkan. Sekarang. Disaat puja-puji membanjiri lini masa atas kreatifitas yang ditunjukkan Bonek di laga perempat final Piala Presiden, Persebaya vs Tira Persikabo, Jumat (29/3/2019) lalu.  

Gerakan  satu orang, satu boneka yang ditunjukkan Bonek di laga itu memang cukup fenomenal. 

Aksi yang terinspirasi dari suporter Real Betis ini menorehkan catatan baru: pertama kali terjadi Indonesia. Terkumpul 20 ribu boneka yang selanjutnya diserahkan pada anak-anak penderita kanker di seluruh rumah sakit Jawa Timur.  

Pantaslah bila apresiasi pun bermunculan. Tak kurang, badan PBB  untuk anak-anak Unicef turut berikan pujian. Gubernur Khofifah juga mengacungkan jempol untuk itu. Belum lagi, taburan puja puji yang berseliweran di dunia maya. Semua beri acungan jempol pada  pendukung Persebaya.

Jumat kemarin memang menjadi berkah Persebaya. Tak hanya aksi one man one doll, beberapa catatan baru mampu ditorehkan. Sebanyak 43 ribu orang hadir menyaksikan pertandingan ini. Ini catatan  baru jumlah penonton terbanyak digelaran Piala Presiden 2019. Kemungkinan, catatan ini akan pecah saat  Persebaya jalani  partai semifinal Rabu (3/4/2019).

Di luar lapangan, bumi Gelora Bung Tomo juga makin berkah. Untuk pertama kali, sejak stadion GBT diresmikan,  masjid yang ada di lingkungan ini dipakai sholat Jumat. Bonek, aparat keamanan dan mereka yang terlibat di penyelenggaraan pertandingan, Jumat lalu, berbondong-bondong memenuhi shaf masjid sebelum pertandingan digelar. Barokallah. 

Pantaslah bila ending pertandingan mampu ditutup  dengan kemenangan. Persebaya melaju ke semifinal dengan skor meyakinkan, 3-1.  

Sayangnya, sederet  torehan tersebut, masih diwarnai penyalaan flare. Ini yang membuat pertandingan  menjadi ternoda. Sanksi denda sudah di depan mata.  Pastinya  lebih besar dari sebelumnya.  Sanksi di Piala Presiden ini bersifat progresif.  Besaran denda akan berlipat bila kembali  mengulang pelanggaran yang sama. 

Sampai sejauh ini, Persebaya sudah kena denda sebesar Rp 105 juta. Ini ”oleh oleh” yang didapat di babak penyisihan grup di Bandung.  Awalnya, Rp 30 juta saat pelemparan botol di laga Persebaya vs Perseru Serui.  ”Argo” nya kemudian naik menjadi Rp 75 juta untuk pelanggaran yang sama saat menghadapi Persib Bandung. Jadi, bisa  ditebak kan, berapa sanksi yang akan  diterima nanti?

Tentu, bagi para penyala flare dan para  pendukungnya, bisa berkilah, apalah  arti angka sebesar itu dibanding pendapatan yang diraup Persebaya? Tilik saja. Saat jamu Tira Persikabo lalu, panpel bukukan pendapatan Rp 2,1 miliar dari penjualan tiket. Angka denda, Rp 100 juta atau Rp 200 juta sekali pun tiada apa-apanya. Bukan begitu Ferguso? 

Simplifikasi pemikiran seperti ini berbahaya. Seakan benar tapi sejatinya menyesatkan. Logika yang dibangun berdasar matematika dunia semata.  Langkahnya diukur dalam deretan angka-angka. Tak peduli dengan lingkungan sekitar. Yang penting dirinya dan komunitasnya terpuaskan. Mau langgar aturan, ganggu orang sekitar tak ada urusan. Toh, ini uang-uang sendiri.  Urusan apa dengan aturan dan lingkungan sekitar? 

Sesat pikir ini harus segera diluruskan. Tak boleh egosentris seperti ini dipupuk dan dipelihara. Malah, ini berlawanan dengan ”khittah” Bonek sendiri.  Catat.

Menjadi Bonek sejatinya adalah ikhtiar tiada henti untuk terus menerus   memupuk dan merekatkan rasa kebersamaan, kepedulian, dan nilai-nilai kebaikan lainnya. Di sisi lain, harus  mampu meredam sekuat mungkin godaan ego diri yang menari-nari. Itu tak mudah. Makanya, paham kan, kalau ada yang bilang, Dadi Bonek itu Gak Gampang?

Spirit ini yang coba dibangun saat ini.  Secara otentik. Khas bonek. Wani total dukung Persebaya sekaligus Wani peduli pada sesama. Inilah mengapa Bonek membangun panti asuhan. Sigap bergerak ketika bencana datang dan menegakkan amal-amal kebaikan lainnya.  

Di dalam stadion santun. Tiada nyanyian rasis maupun aksi-aksi memalukan lainnya. Belajar dewasa. Belum sempurna memang. Tetapi ikhtiar perbaikan ini terus menerus dilakukan. Sepenuh hati dengan tetap bernyali. Di dalam maupun di luar lapangan. 

Jadi,  masih tegakah kau nodai semangat perbaikan ini dengan aksi  konyol melanggar aturan? Tanyakan pada hatimu. Jika masih tak tersentuh dan bebal memuaskan nafsu egomu, bawa saja pergi kedunguan itu. Persebaya dan Bonek tak butuh. Habitatmu bukan di sini, mungkin cocok di suporter sono. Yang rajin ngeksis dengan nyanyian rasis. WANI!!! (*)

 

 

BERITA LAINNYA