Di balik setiap mimpi anak yang ingin terbang tinggi, selalu ada orang tua yang berjalan setia di belakangnya. Begitu pula perjalanan Artha Erlangga Gibran Arief. Bersama sang ayah, Arief Marfianto, Erlangga rutin menempuh perjalanan panjang dari Magetan menuju Surabaya demi satu tujuan yaitu terus berlatih dan berkembang di Persebaya Academy.
Perjalanan itu bermula dari hal sederhana. Keluarga Erlangga mengenal Persebaya Academy melalui media sosial. Dari sana muncul keyakinan bahwa tempat tersebut bisa menjadi ruang yang tepat bagi Erlangga untuk bertumbuh sebagai pemain muda. Tanpa banyak ragu, sang ibu Wulan Sari langsung mengambil langkah dengan mendaftarkan putranya, meski jarak Magetan–Surabaya bukan perjalanan yang mudah
Sebenarnya, dunia sepak bola sudah lebih dulu akrab dengan Erlangga. Sejak kecil ia mengasah kemampuan bersama Mitra Soccer Academy (MSA) Magetan. Di akademi tersebut, Erlangga mulai menunjukkan potensinya sebagai pemain muda. Ia sempat meraih juara pertama di ajang Grass Root Regional Blora serta membawa timnya finis di posisi ketiga dalam turnamen Piala Wali Kota Madiun.

Erlangga memenang piala usai menjuarai turnamen kelompok umur. (dok. keluarga)
Pengalaman-pengalaman awal itu membuat keluarga Erlangga mulai memikirkan pembinaan yang lebih serius.
Seiring waktu, keluarga sempat mempertimbangkan pembinaan yang lebih jauh hingga ke Jakarta. Namun jarak yang terlalu jauh membuat mereka mencari pilihan yang lebih memungkinkan. Hingga akhirnya, Persebaya menjadi tujuan yang dirasa paling tepat.
Erlangga sendiri merupakan anak kedua dari dua bersaudara. Di tengah perannya dalam keluarga, ia tetap berusaha menunjukkan tanggung jawabnya, baik sebagai anak maupun sebagai pemain muda yang sedang meniti jalan.
Keputusan itu membawa konsekuensi yang tidak ringan. Setiap kali latihan, anak berumur 11 tahun itu dan ayahnya harus menempuh perjalanan sekitar satu jam dari Magetan menuju Madiun dengan sepeda motor. Setelah itu, motor dititipkan di stasiun, lalu perjalanan dilanjutkan menggunakan Kereta Logawa menuju Surabaya. Dalam beberapa kesempatan, mereka bahkan harus menginap semalam agar dapat menyesuaikan jadwal latihan.
Di atas kertas, perjalanan tersebut terlihat seperti urusan jarak dan waktu. Namun di lapangan, tantangannya jauh lebih besar. Cuaca sering menjadi ujian tersendiri. Hujan yang turun di tengah perjalanan membuat jalan menjadi licin dan jarak pandang terbatas. Meski begitu, perjalanan tetap harus dilanjutkan karena jadwal latihan sudah menunggu.
Namun semua rintangan itu terasa lebih ringan karena satu hal, keinginan kuat Erlangga untuk terus berlatih. “Kadang kalau hujan kita harus berangkat lebih awal. Tapi kalau anaknya sudah ingin latihan, ya tetap kita jalan,” ujar Arief.

Postingan Imama Lavi di media sosial.
Kisah perjuangan Erlangga ini juga sempat mendapat perhatian di media sosial melalui unggahan Imama Lavi. Ia adalah sosok yang pertama kali membagikan cerita perjalanan pulang-pergi Erlangga dari Magetan ke Surabaya. Imama, yang merupakan mantan atlet voli di Sidoarjo dan kini menjadi dosen di STIKOM Bali, mengaku terkesan dengan mental dan kedisiplinan yang ditunjukkan Erlangga di usia muda.
“Saya melihat ini tidak soal perjalanan jauh, tapi tentang mental dan konsistensi. Disiplin seperti ini jarang dimiliki anak seusianya,” ujar Imama. “Membentuk karakter dan mental di usia dini juga penting untuk kedepannya,”sambungnya.
Tak hanya itu, Imama juga menilai bahwa lingkungan sepak bola di Surabaya, khususnya Persebaya Academy, memiliki peran besar dalam membentuk karakter pemain muda. Menurutnya, pembinaan yang berjalan membuka ruang bagi anak-anak untuk berkembang secara pribadi.
“Ekosistem sepak bola di Surabaya sudah sangat baik. Di Persebaya Academy, anak-anak tidak hanya dibentuk secara skill, tapi juga karakter. Mereka belajar disiplin, tanggung jawab, sekaligus memperluas networking sejak usia dini,” tambahnya.
Ia pun memberikan pesan khusus bagi Erlangga agar tetap menjaga semangat dan proses yang sedang dijalani. “Terus jaga disiplin, nikmati setiap prosesnya. Perjalanan seperti ini akan jadi cerita berharga di masa depan,” tutupnya.

Erlangga berfoto bersama Kepala Persebaya Academy Robertino Pugbliara. (dok. keluarga)
Kini, sudah sekitar empat bulan Erlangga menjadi bagian dari Persebaya Academy. Anak kelahiran 2015 itu saat ini duduk di bangku kelas 5 SD di Islamic International School Magetan. Di usianya yang masih belia, ia mulai menjalani rutinitas yang menuntut kedisiplinan lebih dibandingkan anak seusianya.
Di satu sisi, Erlangga tetap menjalankan kewajibannya sebagai pelajar. Di sisi lain, ia juga menjalani proses sebagai pemain muda yang harus menjaga kondisi fisik, mengatur waktu istirahat, serta disiplin mengikuti latihan. Perjalanan panjang yang ia tempuh kini telah menjadi bagian dari kesehariannya.
Bagi Arief, keputusan memilih Persebaya Academy juga dilandasi pertimbangan yang matang. Ia melihat bahwa program pembinaan yang dijalankan tidak hanya menitikberatkan kemampuan teknis bermain sepak bola.
“Programnya bagus. Anak-anak tidak hanya belajar teknik bermain, tapi juga diajarkan memahami proses dalam sepak bola. Mereka belajar tentang usaha, kerja keras, dan bagaimana menghadapi hasil pertandingan,” ungkapnya.
Nilai-nilai tersebut menjadi alasan utama keluarga Erlangga memilih Persebaya. Di tengah kerasnya persaingan dunia sepak bola usia muda, mereka menemukan proses pembentukan karakter yang dianggap sangat penting bagi perkembangan sang anak.
Disiplin menjadi kata kunci dari perjalanan Erlangga. Setiap perjalanan panjang, setiap latihan yang dijalani, hingga setiap waktu yang harus dibagi antara sekolah dan sepak bola menjadi bagian dari proses membentuk mentalnya. Bagi Erlangga, kedisiplinan bukan hanya soal datang tepat waktu ke lapangan, tetapi juga tentang menjaga komitmen terhadap mimpi yang sedang ia kejar.
Perjalanan dari Magetan menuju Surabaya mungkin akan terus menjadi rutinitas yang melelahkan. Hujan bisa saja kembali turun di tengah perjalanan, dan jarak yang harus ditempuh tetap panjang.
Namun bagi Arief dan Erlangga, semua itu tidak pernah dianggap sebagai penghalang. Karena dalam setiap perjalanan itu, ada keyakinan yang terus dijaga: mimpi memang sering menuntut langkah yang lebih jauh.
Dan selama disiplin itu terus dijaga, langkah kecil Erlangga hari ini bisa menjadi pijakan menuju mimpi yang lebih besar di masa depan. (*)