UJI KEKUATAN: Para pemain Persebaya, dari kiri, Irfan Jaya, Oktavianus Fernando, Thaufan Hidayat, M. Syaifuddin, dan Andri Muliadi saat berlatih di Stadion UNY, Jogjakarta, kemarin (27/2). (Foto: Angger Bondan/Jawa Pos)
Medium Mengukur Kemampuan

STADION Maguwoharjo, Sleman, 28 Februari 2017. Bagi segenap elemen Persebaya Surabaya, venue dan tanggal itu harus terus dirawat dalam kenangan karena sangat bersejarah.

 

Pada sore nanti itulah, di Dirgantara Cup, untuk kali pertama Persebaya tampil di turnamen pramusim resmi setelah disahkan kembali sebagai anggota PSSI. Pengesahan pada konges tahunan PSSI 8 Januari lalu itu sekaligus menandai berakhirnya hiatus empat tahun tak berkompetisi.

 

Jadi, tak mengherankan kalau antusiasme suporter begitu tinggi. Setidaknya, sejak Sabtu lalu (25/2), Bonek - sebutan pendukung Persebaya- terus mengalir ke Sleman. Namun, justru di laga bersejarah melawan PSN Ngada sore nanti itulah, waktunya untuk "menginjak bumi". Alias bersikap realistis dan tidak membebani Mat Halil dkk dengan ekspektasi terlalu tinggi.

 

Bagaimanapun, tim ini baru dibentuk. Pelatih Iwan Setiawan bahkan baru sekitar sebulan menangani Mat Halil dkk. Membentuk skuad yang kuat jelas sebuah proses yang butuh tempo lebih dari itu.

 

"Kami baru memulai langkah pertama besok (hari ini). Dirgantara Cup ini adalah ajang bagi kami untuk mengukur diri sebelum nanti terjun di ajang yang sebenarnya, Liga 2 (Divisi Utama)," kata Mat Halil, kapten sekaligus bek kiri Persebaya.

 

Senada dengan Halil, Presiden Klub Persebaya Azrul Ananda mengatakan, manajemen Green Force sangat berterima kasih atas antusiasme dukungan Bonek. Juga, kepada panitia Dirgantara Cup yang telah memberi kesempatan tampil.

 

"Tapi, yang paling penting dari turnamen ini, jika ternyata sukses di sini, kami jadi tahu apa yang harus dilakukan. Dan, bila ternyata hasilnya kurang memuaskan, kami juga jadi lebih tahu apa yang mesti dikerjakan," kata Azrul.

 

Di antara 20 pemain yang diboyong Persebaya ke Dirgantara Cup, hanya tiga personel yang usianya di atas 25 tahun, yakni Mat Halil, Rachmat Afandi, dan Rendi Irwan. Artinya, mayoritas penggawa Green Force masih butuh jam terbang.

 

Juga, butuh waktu untuk beradaptasi dengan filosofi bermain Iwan Setiawan yang mengedepankan defence counter. Skema tersebut bisa terbilang baru bagi mayoritas penggawa Persebaya saat ini.

 

Jadi, laga melawan PSN Ngada sore nanti adalah medium mendapatkan semuanya: jam terbang, komposisi pemain yang pas, sekaligus untuk mengetahui sudah seberapa matang Mat Halil dkk memahami filososi sang pelatih.

 

Sayang, Green Force terancam tidak bisa menerjunkan Rendi Irwan yang mengalami demam. Gelandang Persik Kediri di Indonesia Soccer Championship (ISC) B tahun lalu itu bahkan tidak ikut latihan di Stadion UNY, Jogjakarta, kemarin.

 

Iwan sudah menyiapkan beberapa opsi pengganti untuk pos yang berpotensi ditinggalkan Rendi. Di antaranya adalah Irfan Jaya atau mendorong Sidik Saimima sedikit ke depan.

 

"Kami tidak ingin memaksa pemain bila kondisinya tidak fit. Sebab, ini hanya turnamen, dan kami tidak mau imbasnya nanti menimpa tim di Liga 2," lanjut Iwan.

 

Kendati hanya berstatus tim Liga 3 (dulu Liga Nusantara), PSN Ngada tetap berpotensi merepotkan. Kekuatan mereka tidak banyak berubah dari saat tampil di Liga Nusantara tahun lalu. Ketika itu, tim asal Nusa Tenggara Timur tersebut berhasil finis sebagai runner-up setelah kalah oleh Perseden Denpasar di final.

 

Kelebihan mereka terutama terletak pada kecepatan. "Ciri khas kami dengan bola-bola atas tetap jadi andalan. Meski merek (Persebaya) sudah lama vakum, kami yakini kekuatan mereka masih bagus. Itulah yang membuat kami kian terpacu," kata asisten pelatih PSN Ngada  Timotius Sebo.

Story provided by Jawa Pos
BERITA LAINNYA