Suporter timnas memenuhi Stadion Utama Gelora Bung Karno pada laga Timnas Indonesia menghadapi Malaysia dalam kualifikasi Piala Dunia 2022 yang berakhir dengan kedudukan 2-3. (Herry Ibrahim for Persebaya)
PSSI, Mari Berkolaborasi

Oleh: Ram Surahman

Malulah bangsa ini. Kericuhan supporter di GBK, Kamis (6/9) sudah pasti menampar kita semua. Wajah keramahan dan senyum keceriaan yang selama ini ditampilkan, musnah seketika. Kini, tinggal menunggu sanksi dari FIFA atas kejadian memalukan ini. Dan, semoga saja, kejadian memalukan ini tak memengaruhi proses biding PSSI sebagai tuan rumah Piala Dunia U-20 Tahun 2021.

Geram dan marah buang saja. Apalagi cari-cari kambing hitam dari aib ini. Terpenting saat ini, adalah introspeksi. Bagaimana memastikan kejadian memalukan seperti ini tak terulang lagi dikemudian hari. Sederet kalimat yang mudah diucapkan namun menjadi tantangan besar untuk diwujudkan.

Satu hal yang dilupakan PSSI selama ini adalah kolaborasi. Khususnya dalam menangani persoalan supporter. Entah mengapa, PSSI tak pernah belajar, dari peristiwa-peristiwa nestapa yang menimpa supporter Indonesia.

Bukalah lembar kelam dunia persupoteran di negeri ini. Ironi akan kita dapatkan. Ternyata kejadian di GBK, hanya berselang tak sampai setahun dengan kematian Haringga Sirla. Suporter Persija yang dikeroyok hingga tewas di Stadion GBLA Bandung, Minggu 23 September 2018.

Lihatlah hiruk pikuk kegeraman yang ditunjukkan saat itu. Kecaman dan memarahan bertaburan. PSSI pun tak mau ketinggalan. Berjilid-jilid sanksi dijatuhkan. Semua yang diindikasi terlibat dibabat. Selesaikah masalah? Ya, untuk sesaat. Selanjutnya, riak-riak kejadian keributan supporter di kompetisi masih juga terjadi. Bahkan, puncaknya ya di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta, Kamis malam lalu.

PSSI melewatkan momentum. Kasus Haringga, harusnya bisa menjadi pintu masuk melakukan penataan supporter secara massif dan nasional. Sayang, PSSI memilih hadir dengan gaya pemadam kebakaran. Datang, siram dan padamkan. Sedang akar persoalan tak pernah tersentuh dan teruraikan.

Memang, dalam urusan supporter, PSSI selama ini, bisa dikata tak mau repot. Penataan supporter lebih dibebankan pada klub. Baik buruknya supporter tanggungjawab mutlak klub. Jika melanggar regulasi berbuah sanksi. Titik.

Itulah mengapa, di awal kompetisi, klub-klub diberi tumpukan regulasi kompetisi beserta besaran sanksi. Flare sekian dendanya, smokebomb sebesar ini rupiahnya. Begitu seterusnya. Jika diulang, dendanya, lebih besar lagi.

Pada titik ini, tak salah bila muncul pemikiran nakal, klub maupun supporter hanya dijadikan sapi parah semata. Jadi ATM berjalannya PSSI. Belum lagi ditambahi minimnya informasi soal tranparansi pengelolaan uang denda selama ini. Klop sudah. Semua ini pada akhirnya bermuara tereduksinya kepercayaan pada PSSI. Alhasil, sanksi yang dijatuhkan, bukannya memberi efek jera. Tapi malah makin meletupkan semangat perlawanan.

Akhiri semua ini. PSSI, mari berkolaborasi. Ubahlan pendekatan. Jangan lagi berjarak. Mari, hadir di tengah klub dan supporter. Di dengar, didampingi untuk menyelesaikan persoalan. Persebaya, pasti senang dan menyambut dengan tangan terbuka. Bukan semata karena besaran denda yang sudah diterima. Lebih dari itu. Ini akan menjadi ikhtiar nyata PSSI mewujudkan supporter yang elegan dan bermartabat. Bukan sekedar janji-janji dan rencana aksi yang tersusun rapi selama ini.

Bergerak bersama. Bahu membahu dengan klub dan supporter. Percayalah, jika supporter di tataran klub baik, pada akhirnya PSSI yang akan memetik hasilnya juga. WANI!

 

*) Tulisan ini adalah opini penulis

 

 

BERITA LAINNYA