Pemain persebaya saat hendak menaiki rantis dari hotel menuju ke Stadion Kanjuruhan, Malang dalam leg kedua final Piala Presiden 2019 menghadapi Arema pada Jumat (12/3)
Catatan Persebaya
Rivalitas yang Cerdas

Oleh : Candra Wahyudi

Saya tidak setuju dengan upaya mendamaikan suporter. Biarlah mereka ’’bermusuhan’’. Biarkan para suporter berseteru. Asal, rivalitas itu tetap pada koridor sportivitas. Perseteruan hanya di atas lapangan hijau. Setelah peluit panjang berbunyi, tidak ada lagi ada permusuhan. Respect.Seperti halnya SAMPAH yang harus dibuang pada tempatnya, RIVALITAS juga wajib diposisikan dalam bingkai yang tepat. Akal sehat. Rivalitas lah yang membuat sepak bola bergairah. ’’Permusuhan’’ lah yang membuat suporter sangat bersemangat ketika klub kesayangan mereka bersua tim rival. Ingat, ini sepak bola. Bukan catur.

Pada tengah malam setelah final Liga Champions 2012, saya terjebak bersama segelintir fans Chelsea di sebuah gerbong kereta. Kami berhimpitan di antara ratusan pendukung Bayern Munchen yang kecewa berat dan bahkan marah setelah tim pujaannya dikalahkan Chelsea di Stadion Allianz Arena, Munchen.

Saya tahu perasaan pada pendukung Bayern: main di kandang sendiri kok kalah! Memalukan! Mereka punya alasan pembenar untuk melampiaskan kemarahan. Menyalakan flare, melempar botol ke lapangan, atau bahkan menyerang pemain dan suporter lawan.

Hal-hal buruk tersebut sangat mungkin dilakukan fans Bayern malam itu. Bayern main di kandang dan fans mereka jauh lebih banyak ketimbang pendukung Chelsea yang tret..tet..tet ke kota terbesar di Jerman itu.

Namun, tindakan tak terpuji itu tidak terjadi. Meski kecewa berat, fans Bayern tetap rela berbagi kursi kereta dengan pendukung Chelsea. Mereka tetap berjalan beriringan meninggalkan stadion. Memang, masih ada umpatan-umpatan kekecewaan. Tapi, tidak ada yel-yel permusuhan!

Sepuluh tahun sebelumnya, saya berada di Roma ketika timnas Italia dipermalukan Korsel pada babak 16 besar Piala Dunia 2002. Publik Italia menganggap kekalahan itu penuh kontroversi. Selain menyalahkan wasit, pecinta bola di Italia juga meletupkan sentimen anti Korea.

Semua hal yang berbau Korea dan bahkan Asia, dibenci. Pemain Korea dilarang berkiprah di Liga Italia. Ahn Jung-hwan pun menjadi korban. Pencetak gol kemenangan Korea itu tidak diterima lagi untuk kembali ke Perugia, klub yang dibelanya sebelum Piala Dunia 2002. Sejak itu, tidak ada lagi pemain Korea yang membela klub Italia.

Karena dikira orang Korea, saya pun menjadi korban bully. Sekelompok pemuda Italia meneriaki saya dengan nada ancaman. Beruntung, hanya teriakan. Tidak ada yel-yel mengerikan yang bahkan sampai harus disensor oleh televise seperti yang kerap saya dengar di stadion-stadion Indonesia.

Apa yang dialami tim Persebaya saat away ke Malang pada leg kedua final Piala Presiden 2019 menggambarkan betapa rivalitas di sepak bola kita  masih jauh dari harapan. Sepak bola seharusnya menghadirkan kesenangan. Tapi, entah mengapa, seolah ada kesan yang disuguhkan justru ketakutan.

Dengan alasan keamanan, yang saya tidak tahu pasti apa ukurannya, para pemain Persebaya harus naik kendaraan taktis (rantis) polisi dari rest area tol Sidoarjo menuju Malang. Lumayan jauh. Padahal, saat away pada Liga 1 musim lalu, skuad Green Force masih bisa naik bus dengan nyaman menuju Malang. Rantis mungkin aman, tapi tidak nyaman. Apalagi untuk perjalanan panjang. 

Tiga jam menjelang kickoff, skuad Green Force kembali harus naik rantis menuju Stadion Kanjuruhan. Perjalanan sejauh sekitar 20 km ini seharusnya ditempuh dalam waktu tidak lebih dari 45 menit. Namun, malam itu perjalanan terasa sangat panjang. Mendekati area stadion, rantis tidak bisa bergerak karena kemacetan yang luar biasa. Para pemain Persebaya terjebak. Tidak bisa apa-apa.

Entah upaya apa yang dilakukan petugas. Yang pasti, rantis tetap saja tidak bisa bergerak. Waktu terus berlalu. Setelah lebih dari 30 menit, perlahan-lahan rantis bisa berjalan. Menurut regulasi pertandingan, tim harus berada di stadion maksimal 90 menit sebelum kickoff. Kami menginjakkan kaki di Kanjuruhan ketika batas waktu itu terlewati. Tapi, inilah sepak bola Indonesia. Regulasi dicederai. Pertandingan jalan terus.

Kami meninggalkan stadion ketika jam menunjukkan tanda pergantian hari. Dan, lagi-lagi harus naik rantis. Tidak ada pilihan lain. Setelah menyusuri malam selama lebih dari satu jam, rombongan berhenti di ruas tol Pandaan. Di sana para pemain keluar dari rantis untuk berganti ke bus menuju Surabaya.

Ini bukan curhat. Para penggawa Persebaya tidak cengeng. Naik apapun mereka siap. Tapi, inilah potret sepak bola Indonesia. Kita harus banyak belajar memaknai rivalitas. Sepak bola itu menggembirakan, bukan menakutkan. Salam satu nyali, WANI!  

BERITA LAINNYA