TRENGGINAS: Abdul Aziz menghindari tekel pemain Persbul Bambang Irawan dalam laga di Stadion Maguwoharjo, Sleman, tadi malam (2/3). Persebaya memenangi dua laga yang dijalani di Dirgantara Cup. (Foto: Angger Bondan/Jawa Pos)
Semifinal di Depan Mata

KALAU saja Dirgantara Cup menerapkan sistem head-to-head, Persebaya Surabaya sudah memastikan lolos ke semifinal berkat kemenangan 1-0 (0-0) atas Persbul Buol tadi malam (2/3). Tim berjuluk Green Force itu tidak mungkin terlempar dari dua besar sekalipun kalah oleh Cilegon United pada laga terakhir besok malam (4/3).

 

Sebab, Persebaya unggul tiga angka atas Persbul yang mereka kalahkan di Stadion Maguwoharjo, Sleman, tadi malam (lihat klasemen sementara). Satu tempat lainnya tinggal diperebutkan antara Persbul dan Cilegon.

 

Tapi, dengan sistem selisih gol yang diterapkan Dirgantara Cup sekalipun, kans Persebaya tetap terbuka menembus semifinal. Cukup dengan hasil imbang pada laga terakhir, tiket ke semifinal bakal resmi di tangan plus status juara grup B.

 

Bahkan, seapes-apesnya, kalah dengan selisih 1 atau 2 gol oleh Cilegon, Green Force juga akan tetap lolos. Sebab, saat ini Persebaya unggul selisih gol +3 atas Cilegon dan Persbul.

 

"Kami tetap akan tampil fight pada laga Sabtu (besok)," kata Iwan Setiawan, pelatih Persebaya, setelah pertandingan.

 

Sebelum Rachmat Afandi membobol gawang Persbul pada menit ke-66, kapten Persebaya sebenarnya lebih dulu melesakkan gol pada menit ke-36. Wasit Sukriwiyanto pun telah menunjuk titik tengah tanda gol tersebut sah. Tapi, keputusan itu kemudian dianulir dengan alasan offside.

 

Keputusan Iwan menyimpan sejumlah pilar yang turun saat melawan PSN Ngada (28/2) harus dibayar dengan tidak segera tune in-nya permainan Persebaya. Thaufan Hidayat, Fani Aulia, Misbakhus Solikin, Rachmat Afandi, dan Mokhamad Syaifuddin tidak menjadi penghuni starting line-up.

 

Persbul bahkan lebih dominan dalam penguasaan bola dengan 60 persen. Catatan 40 persen ball possession Persebaya kemarin bahkan lebih rendah ketimbang saat melawan Ngada yang mencapai 50 persen.

 

Namun, sedari semula Iwan memang sudah menegaskan bahwa penguasaan bola bukan segalanya. Filosofi defense-counter yang diterapkannya justru bertumpu pada kecepatan melakukan serangan balik.

 

Seperti empat gol yang bersarang ke gawang Buol, gol Rachmat juga diawali serangan balik dari sisi kiri pertahanan lawan. Crossing Irfan Jaya gagal ditangkap dengan sempurna kiper Buol. Bola muntah pun berhasil dilesakkan Rachmat yang masuk menggantikan Siswanto menjadi gol.

 

Pelatih Persbul Jufri Bakri mengakui, pada akhirnya kualitas yang menjadi pembeda timnya dengan Persebaya. Meski lebih banyak menguasai bola, pasukannya hanya mencatat empat tembakan on target. Jauh di bawah Persebaya yang membukukan 10 tendangan tepat sasaran.

 

"Masih ada  pertandingan terakhir dan kami harus menang. Saya masih menyimpan ambisi bertemu lagi dengan Persebaya di final," kata Jufri. (io/c17/ttg)

Story provided by Jawa Pos
BERITA LAINNYA