Bonek-Bonita bersama Kapolrestabes Surabaya, Kombes Pol Luthfie Sulistiawan, saat membagi bunga untuk pengendara pelat N. (Persebaya)

Aksi Simpatik di Darmo, Bonek Sambut Pelat N dengan Bunga

Di tengah riuhnya tensi rivalitas, sudut Kota Surabaya justru menghadirkan pemandangan yang menenangkan. Selasa (5/5) malam, puluhan Bonek dan Bonita berkumpul di Simpang Empat Polisi Istimewa, Darmo. Mereka tak membawa spanduk provokatif, melainkan setangkai bunga yang dibagikan kepada para pengendara luar kota yang melintas.

Perhatian mereka tertuju pada kendaraan berpelat “N” asal Malang. Satu per satu pengendara disapa dengan senyum, lalu diberi bunga sebagai simbol persahabatan. Di tengah arus lalu lintas yang padat, aksi itu menjadi oase kecil yang meneduhkan.

Langkah tersebut menjadi respons atas peristiwa yang sempat memicu kegelisahan. Sebelumnya, beredar video aksi sweeping kendaraan berpelat “L” milik warga Surabaya yang dirusak di kawasan Pantai Wedi Awu, Malang. Situasi itu sempat memancing emosi di kalangan suporter. Namun di Surabaya, Bonek dan Bonita memilih jalan berbeda, menjawabnya dengan ketenangan.

Kapolrestabes Surabaya Kombes Pol. Dr. Luthfie Sulistiawan, S.I.K., M.H., M.Si. turut hadir dan mengapresiasi langkah tersebut.

“Kegiatan yang kami lakukan hari ini menjadi bentuk komitmen bahwa kita tidak terpancing dan tidak terprovokasi. Sejak awal, niat kami jelas, yaitu menjaga hubungan baik, dengan siapa pun,” ujarnya.

Ia menambahkan, sepak bola seharusnya tetap menjadi ruang kompetisi yang sehat. “Sepak bola seharusnya menjadi ruang kompetisi di dalam lapangan, namun tetap menjunjung tinggi persaudaraan di luar lapangan,” imbuhnya.

Sekitar 50 Bonek dan Bonita yang terlibat dalam aksi itu tampak konsisten menyebarkan pesan damai. Tanpa teriakan, tanpa tekanan, mereka menunjukkan bahwa suporter juga bisa hadir sebagai penjaga suasana. Bunga yang dibagikan menjadi simbol sederhana, namun sarat makna yakni meredam panas dengan ketulusan.

Pentolan Bonek, Hasan Tiro, menegaskan bahwa aksi seperti ini sudah beberapa kali dilakukan.

“Untuk aksi hari ini, ini bukan yang pertama kali kami lakukan. Kami hanya ingin menunjukkan bahwa ada cara lain dalam merespons situasi, dengan cara yang lebih damai,” katanya.

Menurutnya, semangat seperti itu diharapkan bisa menular ke semua pihak.

“Harapan kami, semangat seperti ini juga bisa diterima dan ditiru, sehingga hubungan antar-suporter ke depan bisa jauh lebih baik,” tuturnya.

Di tengah dinamika rivalitas yang kerap memanas, aksi tersebut menjadi pengingat bahwa sepak bola tetap memiliki ruang untuk nilai kemanusiaan. Ketika emosi bisa diredam, maka yang tersisa adalah rasa saling menghargai sebagai sesama.

“Rivalitas cukup berlangsung 90 menit di dalam lapangan. Setelah itu, kita tetap bisa duduk bersama, ngobrol, dan saling menghargai,” imbuh Hasan Tiro.

Terkait peristiwa sweeping kendaraan berpelat “L” di Malang, Hasan Tiro memilih menyerahkan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum. Ia menilai proses hukum penting untuk memberikan keadilan sekaligus efek jera.

“Untuk kasus tersebut, kami dari Surabaya sepenuhnya menyerahkan kepada pihak kepolisian. Kami percaya, dengan bukti-bukti yang ada, pelaku bisa diproses sesuai hukum yang berlaku. Harapannya, ini bisa menjadi efek jera agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.

Aksi bagi bunga yang dilakukan Bonek dan Bonita diharapkan menjadi jembatan untuk merawat hubungan antarsuporter. Dari simpang jalan di jantung kota, pesan itu mengalir sederhana namun kuat yaitu damai selalu punya cara untuk menemukan jalannya. (*)

BERITA LAINNYA