Tak semua perjalanan dimulai dari sorotan. Sebagian lahir dari lapangan-lapangan kecil, turnamen usia dini, dan kerja sunyi yang jarang terlihat. Begitulah langkah awal Rama Arifuddin, yang kini menjadi salah satu pemain paling moncer di skuad Persebaya U-18.
Rama mengawali kariernya di Persebaya U-15 lewat torehan runner-up Piala Soeratin U-15 Tingkat Nasional 2023. Setelah menjuarai zona Jawa Timur, ia membawa Persebaya U-15 melaju hingga partai puncak dan mengakhiri turnamen dengan posisi kedua nasional. Catatan itu menjadi pintu masuknya ke jenjang pembinaan yang lebih tinggi.
Dengan bekal prestasi tersebut, Rama dipanggil mengikuti seleksi Elite Youth Persebaya. Hasilnya, ia terpilih masuk skuad Persebaya U-16 yang berkompetisi di Elite Pro Academy U-16 musim lalu.

Rama Arifuddin saat melawan Bali United U-16 musim 2024/2025 kompetisi Elite Pro Academy. (Persebaya)
Di level itu, Rama langsung menunjukkan kapasitasnya. Ia mencatatkan 18 penampilan dengan torehan 6 gol dan 2 assist, sebuah catatan yang mengantarkannya naik kelas.
“Waktu di Soeratin U-15 itu momen penting buat saya. Dari situ saya dipanggil seleksi Elite Youth, lalu masuk EPA U-16. Di sana saya belajar banyak, terutama soal disiplin dan konsistensi,” ujar Rama.
Naik ke U-18, menurut Rama, persaingan semakin ketat, tempo permainan lebih tinggi, dan tekanan kian besar. Namun ia justru tumbuh dalam atmosfer tersebut. Musim ini, Rama tampil dalam 13 pertandingan bersama Persebaya U-18, mencetak 4 gol dan 2 assist, serta melepaskan 24 tembakan, 14 di antaranya mengarah tepat ke gawang.
“Di U-18, semuanya lebih cepat dan lebih kompetitif. Saya merasa tertantang. Target saya sederhana, terus berkembang, konsisten, dan membantu tim semaksimal mungkin,” jelas pemain asal tim intenal Persebaya, Putra Surabaya itu.

Rama Arifuddin saat bermain di Persebaya U-20 sebagai pemain yoyo melawan PSM Makassar U-20. (Persebaya)
Tak hanya di U-18, Rama juga kerap menjadi pemain “yoyo” di Persebaya U-20, turun naik antar kelompok usia sesuai kebutuhan tim yang membuatnya semakin matang menghadapi dinamika permainan dan tuntutan fisik.
Bahkan selepas sesi latihan, ia banyak belajar melalui analisis video. Bagaimana membaca ruang, mengambil keputusan cepat, dan tidak ragu bertanggung jawab di momen krusial. Baginya, proses pembinaan di Persebaya Future Lab turut membentuk karakter.
“Pelatih selalu menekankan kerja keras, disiplin, dan bermain untuk tim. Saya ingin terus berkembang, dan suatu hari bisa naik ke level yang lebih tinggi bersama Persebaya,” tandasnya. (*)