Kepala Persebaya Future Lab Ganesha Putera memberikan arahan kepada Arka Bryprasetyo. (Persebaya)

Perjalanan Berliku Menemukan Simon Kjaer

“In finding the right talent, what you see is not what you will get!”
Rasmus Ankersen

Pertengahan tahun 2004, FC Mittyland - klub profesional kota Herning, Denmark sedang membentuk Akademi. Mereka mulai membentuk FC Mittyland U16. Sebelum pra musim, satu pemain mengundurkan diri. Tersisa 1 slot, Claus Steinlein - Direktur Akademi saat itu tak mau pusing. Ia teringat anak Staf Perlengkapan FC Mittyland adalah pemain bola di IF Lund, akademi mungil di Horsens, beberapa kilometer dari sana. Tanpa banyak pertimbangan, ia ajak anak itu gabung ke FC Mittyland U16.

Semusim kemudian, FC Mittyland U16 telah menyelesaikan musim perdananya. Dalam suatu rapat, Claus meminta seluruh pelatih Akademi (kebanyakan berlisensi UEFA Pro) menuliskan 3 nama pemain U16 yang diprediksi akan menjadi pemain profesional. Nama tersebut dimasukkan ke dalam amplop rapat-rapat. Claus bilang “semua amplop ini akan kita buka beberapa tahun kemudian!”

4 tahun kemudian, seorang pemain jebolan Akademi FC Mittyland dibeli oleh Palermo dengan banderol 4 Juta EURO. Pemain bernama Simon Kjaer tersebut menjelma menjadi pesepakbola tersukses di Denmark, bermain 3 World Cup dan 3 EURO. Melanglang buana di Wolfsburg, AS Roma, Sevilla dan terakhir pensiun di AC Milan.

Ya, Simon Kjaer adalah anak dari Jorn Kjaer, Staf Perlengkapan FC Mittyland yang terpilih ke Akademi karena ada pemain yang undur diri. Ya benar, saat Claus membuka seluruh amplop berisi prediksi pemain, tak satu pelatihpun (berlisensi UEFA Pro)  yang menulis nama Simon Kjaer.

Memang di awal, kiprah Simon biasa saja, cenderung underperform. Beruntung, Akademi bersabar dalam bina pemain. Semua pemain diberi kesempatan berlatih dan bermain proporsional. Mereka tidak melakukan deseleksi dini, dengan mencoret pemain terlalu cepat. Setelah adaptasi beberapa musim, Simon dengan etos kerja tinggi menjelma menjadi “mesin sepakbola” menakutkan!

Di suatu kesempatan, Claus menjelaskan bahwa balada Simon Kjaer adalah pembuka mata seluruh staf di Akademi. Pertama, talenta ada dimana-mana, di akademi kecil sekalipun. Kedua, perlu ekosistem yang beri kesempatan berlatih dan berkompetisi proporsional dalam waktu panjang. Ketiga, Jangan lakukan deseleksi terlalu dini. Soal talenta, apa yang kamu lihat, tidak akan jadi yang kamu dapatkan!

Ekosistem Kondusif

Sebelas ribu kilometer dari kota Herning, kami di Persebaya Future Lab (PFL) juga sedang berpeluh untuk melakukan pembinaan pemain muda. Amanah klub saat dirikan PFL sungguh mulia. Di tahun 2027, 30% menit bermain harus disumbangkan pemain binaan sendiri. Amanah mulia menantang. Bagaimana mencetak pemain “lokal” yang kompetitif untuk dapat menit main di Liga Super?

Di tahun pertama, PFL coba identifikasi dan eksplorasi kebijakan pembinaan yang pas, demi tercapainya target 30% menit main 2027. Banyak pihak di luaran sana mengira PFL telah menemukan formulasi pas. Buktinya, Persebaya U16 (generasi baru PFL) berhasil menembus final EPA 2024-2025. Final EPA pertama setelah 6 tahun. Tidak, tidak!!

Dari evaluasi musim perdana, ada hal baik, tapi juga hal negatif yang perlu diperbaiki. Dari analisa menit bermain, kami tidak cukup proporsional memberi kesempatan bermain pada banyak pemain. Ini membuat angka “Early Exit” (berhenti berolahraga) menjadi tinggi. Dampaknya kolam talenta klub mengecil dan tingkat kompetitif menurun. Padahal banyak riset mutakhir menegaskan bahwa perkembangan pemain adalah non linear dan butuh waktu panjang.

Kami juga menemukan PFL lebih banyak meluangkan latihan Rencana Permainan (REP) dari pada Prinsip Permainan Fundamental (PPF) dan Prinsip Permainan per Posisi (PPP). Sebagai gambaran, REP adalah taktik spesifik pelatih untuk memenangkan pertandingan. Berisi set play kolektif 11 orang dalam menyerang dan bertahan. Sedangkan, PPF adalah pengetahuan umum tentang prinsip permainan, apapun taktiknya. PPP adalah prinsip spesifik posisi bermain tertentu. Singkatnya latihan REP untuk bangun tim, PPF dan PPP untuk bangun individu.

Kami terlalu sibuk misalnya melatih “chemistry” 11 orang pemain, ketimbang meningkatkan pengetahuan dan eksekusi individu. Seorang gelandang misalnya tidak alami lonjakan performa dalam hal pilihan support. Ia belum tahu kapan harus mendekat atau menjauh saat kawan pegang bola. Di pertandingan, hal buruk kadang tertutupi karena ada “chemistry” berkat latihan REP intensif. Padahal untuk naik ke Tim Utama, pemain akademi harus bisa tunjukkan kualitas tanpa pernah berlatih bersama sebelumnya. No Chemistry!!

Di samping itu, kami juga menemukan efek positif dari kebijakan memainkan pemain di level lebih tinggi. Singkatnya, pemain terbaik U16 harus bermain di U18/20, pemain terbaik U18 bermain di U20, dan pemain terbaik U20 dipinjamkan ke klub Liga 2. Terdapat lonjakan efek pembelajaran pemain saat bermain di level lebih tinggi. Misal, seorang fullback U16 akan menderita saat bertemu winger U18. Tetapi, fullback U16 ini akan belajar banyak mengatasi winger lawan yang lebih kuat dan cepat. Lebih intensif, lebih kompetitif, lebih banyak belajar!

Strategi

Evaluasi musim perdana menjadi referensi PFL untuk memformulasi kebijakan di musim kedua ini.  Klub sepakat mengambil beberapa langkah strategis. Pertama, memberikan kesempatan berlatih dan bermain proporsional kepada semua pemain. Kebijakan itu diwujudkan dengan rotasi skuad. Sebisa mungkin pelatih wajib merotasi line up tim untuk match hari Sabtu dan Minggu. Kami beruntung, I League menambah jumlah match musim ini menjadi 32 pertandingan. Kesempatan emas!

Kedua, kami coba menerapkan strategi memainkan pemain terbaik di level lebih tinggi secara lebih ekstensif. Saat ini, ada empat pemain PFL yang kami pinjamkan ke Liga 2. Tiga diantaranya telah mendapat menit bermain profesional. Tim Persebaya U20 kini dihuni oleh pemain muda. Tercatat kami sudah memainkan 12 pemain U18 dan 1 pemain U16 di level ini. Menariknya, efek belajar menjadi lebih dahsyat, sebab banyak klub lain yang memainkan pemain Tim Utama mereka di tim U20. Bahkan ada klub yang juga mainkan pemain asing di EPA U20. Lagi-lagi kesempatan emas!

Ketiga, kami mereformasi program latihan PFL untuk luangkan waktu lebih pada PPF dan PPP. Hari Selasa, kami berlatih PPF intens. Lalu Rabu, latihan berdurasi 120 menit dengan 60 menit pertama terfokus pada PPP. Kami ingin pemain PFL mengejar standar kebutuhan teknis di level Tim Utama. Itu jauh lebih penting ketimbang membangun “chemistry” taktik permainan.

Terakhir, dalam pertemuan intens PFL dengan Coach Bernardo, beliau menyampaikan pesan inspiratif. Ia ingin pemain muda Persebaya adalah pemain “lapar” dengan etos kerja tinggi. Pemain muda boleh “masih kurang” dalam teknik dan keputusan, tetapi kemauan untuk berlari mempressing adalah harga mati. “Tugas kalian adalah mencetak pemain dengan menit main di Tim Utama, tugas memenangkan pertandingan adalah tugas kami!” ujarnya lugas. Ayo temukan Simon Kjaer-nya Persebaya!! Wani Rek!!

Ganesha Putera
Kepala Persebaya Future Lab

BERITA LAINNYA