Presiden Persebaya Azrul Ananda saat berbicara dihadapan 55 ribu Bonek dalam acara Forever Game menghadapi Persik Kediri di Stadion Gelora Bung Tomo 11 Januari lalu (Persebaya)
Wawancara Presiden Klub Persebaya Azrul Ananda
Bonek Sehat, Persebaya Juga Sehat

Perayaan ulang tahun ke-93 Persebaya tahun ini dilaksanakan dengan sederhana. Pandemi Covid-19 menjadi penyebabnya. Presiden Persebaya Azrul Ananda menyampaikan harapan dan pesan dalam momen istimewa ini sebagaimana dimuat di Harian Pagi Surya pada edisi hari ini: 

Ulang tahun Persebaya ke-93 di tengah pandemi seperti saat ini, bagaimana Anda memaknai, apa pula harapannya?

Mungkin ini kelemahan saya, seumur hidup tidak pernah terlalu memusingkan apa itu ulang tahun. Terlalu memikirkan ke depan harus bagaimana dan seperti apa. Namun, ulang tahun ke-93 ini merupakan ulang tahun keempat Persebaya yang saya rasakan sebagai CEO klub.

Yang pertama, ke-90 pada 2017, merupakan sesuatu yang spektakuler, merayakan kembalinya Persebaya di kancah nasional setelah sekian tahun tidak diakui. Yang ke-91 adalah tahun pertama saya merasakan Liga 1, lalu yang ke-92 adalah momen Persebaya terus melangkah naik hingga finis urutan runner-up.

Seharusnya, ultah ke-93 ini menjadi spesial karena tahun ini kami untuk kali pertama punya target khusus bersaing berebut juara. Sayangnya, pandemi justru memaksa ultah ke-93 ini menjadi sesuatu yang unprecedented. Kita menghadapi sesuatu yang belum ada contohnya dalam sejarah dunia.

Di tengah ulang tahun ini, kita harus memikirkan hal-hal yang jauh lebih penting di atas sepak bola. Yaitu kesehatan dan keselamatan bersama. Apalagi, pandemi memberi ancaman bukan hanya kesehatan, tapi juga ekonomi.

Tentu kami berharap segalanya segera normal, bukan sekadar new normal. Saya berharap semua pendukung Persebaya bisa saling menjaga diri. Bonek harus sehat, seluruh keluarga bonek harus sehat. Dan kalau bonek sehat, Persebaya juga sehat. Bukan hanya untuk sekarang atau tahun ini, tapi untuk selamanya.

 

Di usia yang menuju seabad, apa yang ingin dicapai secara prestasi dan financial (adakah rencana go-public)?

Sebagai CEO, tentu kami punya rencana jangka pendek, menengah, dan panjang. Yakni satu, tiga, dan lima tahun. Menyelamatkan Persebaya sudah, mengembalikan Persebaya ke Liga 1 sudah, menjaga konsistensi Persebaya di papan atas Liga 1 juga terjadi. Itu di lapangan.

Dalam hal korporasi, langkah masih agak jauh. Fondasi-fondasi komersial untuk meraih sustainability sudah mulai diletakkan. Sebagai sebuah PT, tentu tujuan utamanya adalah profitability. Karena profitability menjamin sustainability. Bukan untuk pemiliknya, melainkan untuk Persebayanya sendiri.

Kalau Persebaya bisa konsisten meraih profitability, berarti membuka peluang Persebaya untuk IPO. Dan itu mungkin solusi masa depan terbaik. Di mana semua orang bisa bergabung memajukan klub ini, dan segalanya pasti menjadi lebih transparan. Tapi percuma bicara IPO kalau klub ini acak aduk. Stabilitas itu harus dicapai, dan pandemi ini tentu sangat tidak menolong.

Sekarang masih malu kalau bicara IPO untuk Persebaya. Saya ingin, ketika memang harus IPO, Persebaya dalam kondisi yang benar-benar sehat. Bukan pura-pura sehat.

Berhentinya kompetisi akibat pandemi Covid-19 membuat seluruh tim mengalami kesulitan, bagaimana upaya Anda menjaga stabilitas Persebaya?

Pandemi ini bukan hanya menantang klub sepak bola. Semua lini ekonomi terkena dampaknya. Mulai perusahaan besar sampai warung-warung di pinggir jalan. Dan musuh utama kemajuan, menurut saya, adalah ketidakpastian. Saat ini, semua klub kesulitan mengambil langkah ke depan karena acuan ke depannya, khususnya dari pihak regulator, masih belum ada. Dan semakin lama ketidakpastian itu berlanjut, semakin berbahaya situasinya untuk semua klub.

Persebaya mungkin sedikit lebih beruntung, karena sudah meletakkan fondasi-fondasi untuk meraih revenue di luar sponsor dan bagi hasil dari liga. Misalnya Persebaya Store, khususnya online store. Jadi, di saat klub-klub lain nol pemasukan, Persebaya masih ada sumber pemasukan untuk menjaga mesin menyala. Walau jauh dari keadaan kalau situasi normal.

Sampai ada kepastian dari regulator, klub-klub harus berani menelan pil pahit supaya tetap hidup. Pasti ada pihak-pihak yang tidak happy dengan apa pun keputusan nanti, tapi yang utama adalah memastikan kapal induk tetap utuh. Nanti, kalau situasi sudah beranjak normal, bukan sok normal, kapal itu bisa kembali mengangkut penumpang dan kembali melaju. Tapi kepastian itu sangat krusial supaya kapal-kapal klub tidak tenggelam. Semakin lama, semakin bahaya.

Menurut Anda, alasan paling spesifik apa yang membuat kompetisi bisa dilanjutkan atau sebaliknya dihentikan?

Kompetisi baru boleh dijalankan lagi kalau situasi sosial ekonomi bisa dinyatakan aman. Pandemi ini bukan hanya berdampak untuk keselamatan dari aspek kesehatan. Pandemi ini punya dampak lanjutan yang mungkin lebih berbahaya untuk jangka panjang. Yaitu dampak ekonomi.

Klub-klub di Indonesia masih sangat mengandalkan revenue dari penjualan tiket. Beda dengan di negara-negara maju, yang mayoritas pemasukannya dari hak siar TV. Di Indonesia, bagi hasil dari liga masih sangat kecil bila dibandingkan dengan cost keseluruhan.

Sudah bukan rahasia, pertandingan sepak bola yang ramai berpotensi menjadi superspreader yang mengerikan. Jangan-jangan, kalau dipaksakan, sepak bola justru semakin mempersulit perjuangan dan kerja keras pekerja-pekerja medis yang sekarang saja sudah sangat kewalahan. 

Selain itu, masyarakat harus memprioritaskan keuangannya untuk keluarga dan kelangsungan hidupnya sendiri dulu. Apalagi kalau jumlah pengangguran meroket akibat pandemi ini.

Sekali lagi, di situasi sekarang, sepak bola itu menurut saya adalah prioritas kesekian dalam kelangsungan hidup masyarakat. Tidak boleh emosional dan egoistis dalam memaksakan sepak bola.

 

Jika akhirnya liga harus dihentikan, usul apa yang bisa dilakukan PSSI dan pemerintah agar persiapan timnas di Piala Dunia U-20 tetap berjalan?

Harus kita pisahkan antara Liga dengan tim nasional. Karena ini dua set keputusan yang berbeda eksekusi dan dampaknya. Selama ini, selalu ada masalah dalam menyesuaikan jadwal Liga dengan timnas. Dengan pandemi ini, kalau kelangsungan liga sulit dilanjutkan, maka prioritas bisa dialihkan ke timnas. Yang untuk persiapan tidak membutuhkan pengumpulan massa hingga ribuan orang. 

Justru mungkin ini kesempatan untuk menekan tombol reset. Menata jadwal yang ideal di kemudian hari supaya Liga dan timnas bisa benar-benar saling melengkapi dan mendukung. Bukan saling mengganggu seperti selama ini.

Saat ini skuat Persebaya hampir 50 persen diisi pemain muda, apa yang memotivasi hal itu, dan bagaimana pula investasi di kompetisi internal?

Dalam sejarahnya, Persebaya itu penghasil pemain bintang. Tradisi itu terus kami upayakan untuk dijaga. Dalam beberapa tahun terakhir, kami yakin Persebaya melakukan investasi paling besar untuk pembinaan bila dibandingkan dengan klub-klub lain. Hasilnya, selain serangkaian prestasi di tingkat junior, juga suplai pemain berkelas untuk tim senior.

Persebaya bukan Persebaya kalau tidak ada pembinaan junornya. Saya dulu waktu kecil pernah tergabung di salah satu klub internal. Saya tahu betul bagaimana semangat membara itu dibina sejak usia dini.

 

Sponsor Persebaya terbilang setia, apa yang dilakukan untuk menjaga kepercayaan mereka?

Kami sangat bersyukur punya sponsor-sponsor luar biasa. Yang semangatnya sama dengan kami, menjadikan Persebaya bukan sekadar jaya, tapi juga bermanfaat untuk masyarakat banyak dan lingkungannya.

Bagi Persebaya, sponsor bukan sekadar logo yang menempel di jersey. Berbagai aktivitas dan kegiatan juga kami lakukan bersama. Yang bukan hanya bermanfaat dari segi komersial, tapi secara sosial.

Di tengah perjalanan manajemen kami, dalam segala masa indah dan susah, kami berupaya untuk selalu berkomunikasi dengan baik dengan seluruh sponsor. Kami ingin selalu berupaya agar support mereka di Persebaya memberikan dampak sebaik mungkin. Bukan sekadar tempel logo lalu thank you and goodbye.

 

Momen paling membahagiakan sekaligus tidak mengenakkan ketika memimpin Persebaya?

Momen paling indah tentu adalah saat mengakhiri Liga 2 2017 dengan cemerlang. Bukan hanya lolos ke Liga 1, tapi juga jadi juara. Ujian tahun itu banyak sekali, mulai menghidupkan "kapal mati" hingga membawanya kembali ke tempat yang semestinya.

Paling sedih, tentu ketika tidak mampu memuaskan semua bonek. Kami sadar, memuaskan semua orang itu tidak mungkin. Perjalanan pasti ada naik turunnya. Dan kami paham, butuh waktu untuk membuat orang benar-benar percaya kalau kami ini serius bekerja keras untuk Persebaya. Semua ingin Persebaya jaya, semua punya berbagai ide dan pemikiran tentang Persebaya, dan kadang ide-ide itu berseberangan. Niatnya sama-sama baik, tapi justru membuat terjadinya salah paham dan ketidakpercayaan.

Setelah tiga tahun, rasanya kami mampu membuat bonek lebih percaya. Tidak semua harus percaya, dan tidak mungkin semua senang, tapi rasanya sulit melihat ada manajemen yang bekerja murni secara profesional seperti sekarang ini. Di klub-klub lain saja yang saya lihat belum tentu seperti ini, kadang jauh dari ini. Namun butuh waktu untuk benar-benar membuar orang yakin. 

Seperti menikah bukan? Butuh waktu untuk benar-benar klik. Tapi yang penting semua niatnya sama dan pure, untuk Persebaya Selamanya.

 

Flash back ke belakang, alasan mas Azrul mau memimpin Persebaya, padahal waktu itu kondisi Persebaya sedang kurang baik, baik dari sisi keuangan maupun image, apakah keluarga setuju? 

Berkali-kali saya bercerita ini. Bahwa pada awalnya saya minimal dua kali menolak tawaran mengelola Persebaya. Keluarga saya punya sejarah panjang dengan Persebaya. Saat kelas 5 SD saya pun pernah merasakan pergi away tanpa bawa apa-apa. Termasuk uang sepeser pun. Untuk menonton Persebaya di Jakarta. Tidak banyak yang tahu itu.

Pada akhir 2016 itu, pihak pengelola Persebaya meminta kami untuk menyelamatkan klub. Di atas kertas, segala potensi masa depan Persebaya sangat besar. Tapi tentu dengan risiko yang tidak sedikit pula. Khususnya dari sisi finansial. Bukan sekadar hutang, tapi juga modal operasional yang jauh lebih besar dari hutang.

Saya bersama Candra Wahyudi (sekarang direktur dan manajer tim) terus berdiskusi harus bagaimana. Juga berkomunikasi dengan banyak pihak, termasuk PSSI. Pada akhirnya, kami memutuskan untuk go ahead dengan akuisisi saham mayoritas Persebaya. 

Pertimbangannya, Persebaya memang harus dipegang oleh pihak yang tepat. Yang memastikan Persebaya tetap di Surabaya, dan punya peran aktif memajukan Surabaya. Di tangan yang salah, Persebaya bisa menjadi sesuatu yang membuat trauma bagi warga Surabaya. Juga Indonesia secara umum. Mengingat image masa lalu yang cenderung negatif. 

Terus terang, orang tua sama sekali tidak tahu. Begitu done deal, baru saya mengabari orang tua. Dan jawabannya tegas: "Abah senang."

Ayah saya memang berdarah sangat hijau! Ha ha ha...

 

Aktivitas Anda selama pendemi, terutama upaya menjaga kesehatan pribadi juga keluarga?

Keluarga kami termasuk yang lumayan disiplin menjaga diri di rumah saja saat awal-awal masa krisis ini. Apalagi ayah saya termasuk paling berisiko karena latar belakang pernah transplantasi liver.

Saya pribadi sangat suka olahraga, khususnya bersepeda. Awal-awal, saya menjaga kondisi dengan latihan di rumah saja. Virtual riding dengan teknologi aplikasi dan smart trainer sepeda. Saya kemudian juga masih rajin keluar bersepeda menanjak ke kawasan pegunungan di sekitar Surabaya. Tentu dengan protokol lebih hati-hati. 

Istri saya juga aktif olahraga, bersama teman-temannya terus latihan secara virtual di rumah masing-masing.

Anak-anak kami jaga untuk tetap aktif. Baik berolahraga di rumah dengan pelatih virtual, atau kami ajak bersepeda dan jalan-jalan di sekitar kompleks.

Syukur Alhamdulillah, keluarga besar saya masih terjaga kesehatan sekarang, dan bisa terus aktif dalam banyak kegiatan. Saya melihat pandemi ini punya efek positif, di mana masyarakat jadi lebih sadar pentingnya berolahraga.

 

Pesan Anda pada masyarakat luas, agar pandemi Covid-19 berakhir, kehidupan bisa segera normal, termasuk sepak bola?

Pandemi ini luar biasa. Paling tidak diskriminatif. Siapa saja bisa kena, dan siapa saja harus menghadapinya sama dengan yang lain. Orang paling kaya pun tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak bisa berobat ke luar negeri walau mampu membayar private jet sekalipun. 

Sampai ada vaksin, sampai ada obat yang jelas, lawan pandemi ini adalah kedisiplinan dan kesadaran kita sendiri-sendiri. 

Semakin kondisi tidak terkontrol, semakin meluas virus ini menyebar, semakin lama kita kembali ke dunia normal. Lupakan itu istilah new normal atau apa. Kita semua kan ingin kembali ke normal yang sebenarnya.

Tentu kita tidak bisa melarang dan mengekang orang. Mungkin hanya bisa berharap orang itu aware terhadap situasi dan saling menjaga.

Gampangnya begini. Kalau memang situasi negara kita ini sulit dikendalikan, maka saya berharap pendukung Persebaya yang paling disiplin menjaga diri dan satu sama lain. Jadi, kalau kelak kembali normal, Persebaya tetap punya basis pendukung terbesar.

Sekali lagi. Kalau bonek sehat, maka dia bisa memastikan keluarganya tetap berlangsung sehat. Jadi ketika waktunya sepak bola kembali, dia dengan sehat dan mampu bisa kembali mendukung Persebaya secara real dan langsung.

Bonek sehat, Persebaya sehat. (*)

 

BERITA LAINNYA