Korban pelemparan batu pada laga Persebaya vs PS TIRA, Minggu (21/7).(Persebaya)
Duhai Engkau Si Pelempar Batu

Oleh : Ram Surahman

Entah setan mana yang merasuki pikiranmu. Ringan saja tanganmu. Malam itu. Di penghujung laga Persebaya lawan Tira, kau lempar bongkahan batu, penuh nafsu.   

Lemparanmu penuh kemarahan. Tersulut akan hasil akhir yang tak sesuai harapan. Persebaya urung mengunci kemenangan. 

Duhai engkau si pelempar batu. Jika belum tahu, aku kabarkan. Batu yang kau lempar itu. Yang memuat berjibun kemarahan dan rasa murkamu, telah membawa korban. Kawan jurnalis, peliput pertandingan malam itu, kepalanya harus mendapat tujuh jahitan akibat ulahmu. 

Duhai engkau si pelempar batu. Saat ini, mungkin engkau tertawa riang. Atau malah lupa dengan aksi barbar yang telah kau lakukan itu. Tapi ketahuilah,  Tuhan tak diam. Ulahmu pasti dimintai pertanggungjawaban. 

Kelak. Saat kita semua dikumpulkan di hari perhitungan. Sampaikan pada-Nya sejuta alasan yang telah kau siapkan. Tapi, asal kamu tahu, urusan sesama anak manusia tak  akan terselesaikan, selagi  pintu maaf  korban belum dibukakan. 

Untuk ini, Tuhan pun pasti angkat tangan. Karena itu, senyampang nafas masih di kandung badan. Lunakkan hatimu. Kubur egomu. 

Duhai engkau si pelampar batu. Ingat baik-baik. Darah yang menetes malam itu, tak semata  ”menghasilkan” tujuh jahitan saja. Lebih dari itu. Ulahmu telah menjadi antitesa segala kerja kebaikan yang telah dilakukan kawan kawan Bonek selama ini.

Harusnya, kamu malu dengan teman-teman Bonek Sobo Panti yang sampai saat ini tak kenal henti mewujudkan mimpi Panti Asuhan Bonek yang hampir selesai. Malulah kamu dengan kawan-kawan Bonek Rescue dan Emergency Unit yang gerak cepat kala bencana dan musibah melanda negeri ini.  

Atau, jika memang kamu malu  belajar dari mereka, bolehlah kamu  tiru aksi simpatik Jojo dan Zoro. Keduanya bersusah payah membawa seribu boneka ke Jogja. Dibagikan pada anak-anak penderita kanker di RS dr Sardjito. Semua kerja kebaikan itu, tak lain untuk mengimbangi ulah-ulah nakal dan tak bertanggung jawab oleh mereka yang mengatasnamakan Bonek. Sama seperti yang kamu lakukan malam itu.  

Para pekerja kebaikan itu mungkin tak punya kuasa untuk menghentikan ulah-ulah nakal itu. Tapi mereka meyakini, hanya dengan kerja kebaikanlah perlawanan terbaik untuk mengimbangi dan meredupkan segala kenakalan itu.

Kita semua, patut berterimakasih pada mereka. Setidaknya, kerja kebaikan itu mampu mewarnai dan tak sampai membawa nama bonek terjerembab dalam kubangan caci maki yang digali para oknum tak bertanggungjawab itu.   

Dan, sejatinya kita, siapa pun anda, bisa turut dalam kerja kebaikan itu. Tak harus dalam skala luas dan kurasan energi serta dana yang besar. Cukup dari diri sendiri dengan mematrikan spirit kebaikan dalam hati dan mengaktualisasikan  pada sikap diri. 

Jika kebaikan yang ditampilkan maka kebaikan pula yang akan kita dulang. Sebaliknya, bila amarah, kebencian, dan murka yang kita tampakkan, maka itu pula yang akan kita dapatkan dalam perjalanan hidup ini.  

Itulah keseimbangan hidup. Maka, berhati-hatilah dalam bertindak  dan melangkah. Apa yang kamu lemparkan, entah batu atau pun air mineral, semua pasti akan dimintai pertanggungjawaban. Mungkin lolos di kehidupan ini, tapi bagaimana di hari kemudian? WANI. (*)

 

BERITA LAINNYA