Aksi sosial komunitas Bonek Gondo Mayit pada acara Khitanan Massal yang dilaksanakan di balai umum Berbek Nganjuk, Minggu lalu (18/12). (Persebaya)
Catatan Persebaya
Dari Gondo Mayit Mengetuk Pintu Langit

Oleh: Ram Surahman

Namanya terdengar menyeramkan. Gondo Mayit. Jika hanya mendasarkan nama ini, pastilah gambaran seram yang akan tercipta. Persepsi akan terbangun macam-macam. Maklum saja. Namanya saja seperti itu: Bau Mayat. Begitu kira-kira kalau di Indonesia kan.

Saya pribadi, sebetulnya juga penasaran dengan nama ini. Lha, memang gak ada nama lainkah? Kok ngeri banget, dengarnya. Dan, Minggu lalu (18/12), penasaran yang terbangun sejak lama terjawab. Saya berkesempatan hadir pada acara Khitanan Massal yang dilaksanakan kawan-kawan Bonek Gondo Mayit di balai umum Berbek Nganjuk.

Hari itu, sebanyak 23 anak dikhitan dan santunan pada anak-anak yatim juga diberikan. Para malaikat kecil yang dikhitan mendapat baju takwa, kaos Bonek Gondo Mayit, syal Persebaya dan uang saku. Plus sertifikat dari Lembaga Kesehatan NU Nganjuk yang dipercaya meng-khitan para malaikat kecil ini. Di akhir acara, ditutup dengan Song For Pride yang dipimpin dirigen tribun kidul, Tessy Bimbim.

Beberapa komunitas Bonek dan supporter lain juga terlihat di sana. Selain teman-teman Tribun Kidul, ada Om Juned dari Bonek Kedurus, Bonek Blitar, Bonek Liar Nganjuk, Viking dan tak ketinggalan, supporter ‘tuan rumah’ Nganjuk. Banyak sekali. Mungkin ada yang tak tersebut di tulisan ini. Mohon maaf.

Dari Mas Safa Alhamdani, salah satu pegiat Bonek Gondo Mayit, tahulah saya kenapa nama ‘seram’ ini yang dipakai. Ini bukan sembarang nama, ternyata. Nama ini lahir dari KH Ali Maghfur Saufan Zirzis, pemangku Pondok Pelapak Sholawat Nganjuk, guru spiritual teman-teman Bonek Gondo Mayit.

Awalnya, kata mas Safa, komunitas Bonek di sana memakai nama Samber Nyawa. Jika masih ingat, spanduk besar Bonek Samber Nyawa ini terpampang jelas saat Persebaya jalani babak delapan besar Divisi Utama tahun 2005 lalu. Seiring waktu, nama Samber Nyawa ini, ternyata juga dipakai julukan suporter Solo. Mengalah. Berubah nama.

Dan, tahun 2008, melalui ritual puasa, Gus Ali pun memberi nama Gondo Mayit. Filosofinya kira-kira, mendukung Persebaya hingga akhir hayat. Hingga raga berbau mayat tak akan pindah kemana. Jadilah, nama Bonek Gondo Mayit hingga sekarang. Lebih dari 200 bonek tergabung di komunitas ini. Semua dikelola bersama. Tanpa ada ketua atau apapun namanya. Pokoknya, digerakkan bersama. Sama seperti keberadaan Bonek saat ini. Tanpa ketua, juru bicara atau apapun sebutannya. Semua bebas, mandiri, merdeka mendukung kebanggaan tanpa dibatasi sekat struktural.

Soal nama, kata Mas Safa. Terserah apa kata orang mempersepsikannya. Dibilang tak milenial, biar saja. Atau apapun komentarnya. Tak soal. Bagi mereka, ketika kepedulian pada lingkungan sekitar makin tumpul, itu yang jadi soal. Mengusik relung nurani, mengaduk-aduk emosi.

Karena itu, mereka tak pernah bisa diam. Jauh sebelum gelar khitanan massal, bonek gondo mayit rutin mencangkul ladang kebaikan. Tablih akbar, pengajian, sholawatan bersama sang guru spiritual, Gus Ali dan sederet kerja kebaikan yang tak cukup untuk disebutkan. “Biar saja, orang membangun persepsi apapun tentang kami. Tak masalah. Yang terpenting, kerja kebaikan, kepedulian pada sesama tak pernah hilang dari hati kami,” tandas Mas Safa Alhamdani.

Beruntunglah Persebaya miliki pendukung-pendukung hebat seperti ini. Mereka pantang larut dalam caci maki saat kondisi PSSI seperti ini. Atau, tidak juga galau di tengah ketidakjelasan kapan Kompetisi musim 2019 dimulai. Biar saja. Itu menjadi tugas manajemen untuk memikirkan. Pun termasuk, skuad yang akan dibangun untuk musim depan. Semua dikawal bersama tanpa sumpah serapah.

Bagi mereka, kerja kebaikan tak boleh terhenti oleh hal-hal seperti itu. Semua harus terus digerakkan. Sebanyak mungkin titik-titik kebaikan digoreskanmuka bumi. Di Nganjuk, titik kebaikan itu sudah ditancapkan. Di Sidoarjo panti asuhan yang dimotori kawan-kawan Bonek SKJ 27 bentar lagi selesai. Di Surabaya, kerja dalam senyap, rekan-rekan Bonek Maiyah membagi nasi bungkus untuk dhuafa sekaligus menginisiasi musholah di stadion GBT. Dan, masih banyak lagi kerja kebaikan yang dilakukan komunitas bonek seantero jagad yang tak akan muat disebutkan.

Biarkan titik-titik kebaikan itu menjadi cahaya penerang bagi Persebaya. Untuk meniti jalan di pentas sepakbola Indonesia. Menjadi harmoni, menenteramkan hati siapapun yang menikmati. Laksana cahaya-cahaya lampu yang kita nyalakan, mengiringi Song For Pride usai pertandingan.

Jayalah Persebaya selamanya. Begitu doa para malaikat kecil di Nganjuk mengetuk pintu langit. WANI!

BERITA LAINNYA