Ilustrasi Bonek Mania (Satriowcs for Persebaya)
Sebuah Renungan Menyambut Laga Borneo FC
Cukup Yuli Sumpil Saja Yang Mengalami

Oleh : Ram Surahman

Jejak digital. Jika paham dan mengerti akan kedahsyatan jejak digital  itu, pastilah Yuli Sumpil dan mereka yang  bertingkah barbar di laga Arema FC vs Persebaya di Malang, tak  akan lakukan tindakan itu. Atau setidaknya berpikir dua kali.  

Kenapa? Segala kekonyolan yang dilakukan, akan tersimpan ruang digital milik publik. Entah di medsos, berita-berita digital, dan  saluran dunia maya lainnya.  Tak akan terhapus. Dan, saat ini hingga kelak,  sewaktu-waktu bisa ditayangkan ulang untuk menilai keseriusan dan kualitas seseorang. 

Jejak digital memang kejam.  Karena itu, berhati-hatilan kita suporter bola. Segala tingkah laku yang dilakukan, akan berbanding lurus dengan social score. Penilaian sosial akan eksistensi individu maupun kelompok. Jadi, jika menanam kebaikan maka social score juga akan positif. Publik bersimpati, memberi apresiasi, dan mungkin saja puja puji.  Alhasil, image positif pun akan dituai. 

Hal sebaliknya akan dituai bila kelakukan memuakkan yang ditunjukkan.  Mirip Yuli Sumpil di Kanjuruhan. Sikap antipati, tiada simpati, dan sudah pasti berbalas caci maki.  Publik akan tertawa, bila dikemudian hari, Yuli Sumpil tiba-tiba bicara sok arif, ngomong sportifitas maupun imbauan ngajak damai.   OMONG KOSONG.  

Seperti  Ketua Jakmania, Ferry Indra Sjarif beberapa waktu lalu. Gaya sok bijak  dan rangkaian kata berbalut damai yang disampaikan  di ILC TV One menyikapi meninggalnya Jakmania di Bandung seperti omong kosong belaka. Kenapa? Netizen merujuk pada kelakuannya saat insiden di PTIK, Persija vs Persebaya.  Antara yang  diomongkan dan kelakuan di lapangan  seperti  jarak bumi dan dangkal sumur. Sekali lagi, jejak digital memang kejam. 

Hukum besi ini juga berlaku pada kita, para pendukung Persebaya. Image buruk di publik yang kita tanggung selama ini, akibat  ulah-ulah yang ditanam oleh mereka yang tak bertanggungjawab.  Social score sudah diberikan. Inilah yang membuat segala kebaikan yang dilakukan Bonek,  seperti tak ada yang  melirik.  Gak percaya. 

Kita juga  membayar cukup mahal atas ulah-ulah di luar kontrol saat menjamu Arema FC di putaran pertama lalu. Denda Rp 410 juta harus dibayarkan Persebaya.  

Bisa jadi, angka ini dianggap kecil dibanding pendapatan tiket dari pertandingan tersebut yang konon menembus angka Rp 2 miliar. Tetapi, ini bukan bicara rupiah. Ini menyangkut jejak digital yang ditinggalkan dan berujung social score yang didapatkan. Image negatif susah dihilangkan. Dan,  kalau pun maksa dirupiahkan, kerugian dari buruknya social score ini  tentu jauh lebih besar. 

Tak ada kata terlambat bagi kita mengubahnya. Sederhana saja. Dari diri  sendiri.  Warnai hari-hari kita dalam urusan per-Bonek-an dengan hal-hal positif dan penuh kebaikan. Jujur, melaksanakan ini tak semudah menuliskan. Butuh dorongan kuat dari diri sendiri maupun lingkungan sekitar yang mendukung.

Karena itu, saatnya kita bergandengan tangan. Menguatkan diri sebagai  keluarga besar Bonek yang  elegan dan bermartabat. Malulah kita dengan teman-teman Bonek yang mendirikan panti asuhan. Malulah kita dengan rekan-rekan kita yang begitu peduli dan tajam naluri kemanusiaannya, menolong sesama yang kena musibah.  Malulah kita bila tak bisa melakukan apa-apa untuk menjadikan suasana stadion menjadi lebih ceria.  

Terdekat, momen itu akan datang di akhir pekan mendatang. Persebaya akan menjamu Borneo FC di Stadion Gelora Bung Tomo Pukul 18.30 WIB. Pertandingan ini, tak semata memberi support pada arek arek Green Force  untuk  menyapu poin maksimal. Lebih dari itu, bagi kita semua, para Bonek, mari, jadikan laga nanti sebagai pembuktian menaikkan level kedewasaan.  

Posisi yang sudah tak selevel dengan kelakuan Sumpil dan antek-anteknya. Silakan mereka bertingkah barbar di Kanjuruhan. Mencaci maki  para  pejuang kota Pahlawan maupun merobek bendera kebanggaan. Di GBT, pesan damai kita berikan. Mengajari mereka akan makna rivalitas dan bagaimana mendukung kebanggaan. 

Sejuta cahaya kita nyalakan. Menjadi penerang bagi Sumpil dan kita semua yang kelakuannya masih barbar untuk kembali ke jalan yang benar.(*)

 

Tulisan ini adalah pandangan Individu penulis, bukan sikap dan pandangan Persebaya.

 

 

BERITA LAINNYA