Pemain Persebaya U-20 ketika berduel dengan pemain PSS Sleman U-20 pada matchday pertama EPA One 2026/27. (Persebaya)
Elite Pro Academy One U-20 2026/2027 | Matchday 1

Gol Kemelut Jadi Pembeda, Persebaya U-20 Tumbang di Tridadi

Persebaya U-20 sudah berusaha mengejar hingga menit-menit akhir, tetapi satu gol menjadi pembeda dalam pertandingan melawan PSS Sleman U-20.

Bermain di Stadion Tridadi, Sleman, Yogyakarta, Sabtu (3/10), Green Force muda harus mengakui keunggulan tuan rumah dengan skor 0-1 dalam lanjutan Grup C Elite Pro Academy (EPA) One 2026/2027.

Pertandingan berjalan ketat sejak awal. Kedua tim sama-sama berusaha mencari celah, tetapi hingga turun minum belum ada gol yang tercipta.

PSS akhirnya memecah kebuntuan tiga menit setelah babak kedua dimulai. Pada menit ke-48, kemelut terjadi di dalam kotak penalti Persebaya. Bola sempat berada dalam situasi tidak terkawal setelah terjadi duel dan saling berebut posisi. Dalam kondisi tersebut, pemain PSS mampu mendapatkan sentuhan akhir untuk mengarahkan bola ke gawang Kenzo Albar. Skor berubah menjadi 1-0.

Persebaya berusaha merespons. Peluang untuk mengubah jalannya pertandingan semakin terbuka setelah salah satu pemain PSS menerima kartu kuning kedua pada menit ke-55. Tuan rumah harus bermain dengan 10 pemain.

Situasi tersebut kembali berubah pada menit ke-77. PSS harus kehilangan satu pemain lagi setelah wasit mengeluarkan kartu merah langsung. Persebaya pun bermain menghadapi sembilan pemain.

Momentum itu coba dimanfaatkan Bajol Ijo. Serangan demi serangan terus dilancarkan. Beberapa peluang berhasil diciptakan, termasuk melalui situasi bola di sekitar kotak penalti PSS. Namun, penyelesaian akhir belum mampu mengubah skor.

Hingga peluit panjang berbunyi, Persebaya U-20 masih belum menemukan gol penyeimbang. Skor 0-1 bertahan dan tiga poin menjadi milik PSS Sleman U-20.

Pelatih Persebaya U-20, Mat Halil, mengakui anak asuhnya sempat mengalami frustrasi ketika berusaha membongkar pertahanan lawan, terutama setelah PSS bermain dengan sembilan pemain.

“Anak-anak sudah berusaha, tetapi memang kami cukup kesulitan mencari ruang di pertahanan mereka. Setelah lawan kehilangan pemain, kami terus mencoba menekan, tetapi penyelesaian akhirnya belum maksimal. Ini menjadi evaluasi bagi kami,” ujar Coach Halil.

Dalam pertandingan tersebut, beberapa momentum serangan Persebaya juga sempat terhenti akibat keputusan wasit yang memunculkan protes dari bench Green Force. Coach Halil bahkan mendapatkan kartu kuning setelah melancarkan protes keras.

Meski demikian, pelatih berusia 47 tahun itu memilih tidak berlarut-larut memikirkan keputusan pertandingan. Baginya, masih ada perjalanan panjang yang harus dijalani dan fokus tim harus segera dialihkan ke laga berikutnya.

“Namanya pertandingan pasti ada keputusan-keputusan yang kadang tidak sesuai dengan apa yang kami harapkan. Kami harus bisa menerima itu dan tidak boleh terlalu larut. Sekarang yang paling penting adalah evaluasi, recovery, lalu fokus menghadapi pertandingan berikutnya,” tegasnya.

Hasil ini membuat Persebaya U-20 gagal mengikuti jejak tim U-16 dan U-18 yang sama-sama membuka perjalanan EPA One 2026/2027 dengan kemenangan atas PSS Sleman. Namun, perjuangan Green Force muda masih panjang. Kekalahan di laga perdana menjadi bagian dari proses untuk segera berbenah dan bangkit pada pertandingan selanjutnya. (*)

BERITA LAINNYA