Tiga tim muda Persebaya membawa cerita manis ke Stadion Gelora Bung Tomo, Sabtu (19/9). Setelah sepekan sebelumnya menorehkan prestasi dengan menjuarai Piala Soeratin Zona Jawa Timur, Persebaya U-13, U-15, dan U-17 mendapat kesempatan menyaksikan langsung perjuangan tim senior menghadapi Garudayaksa FC pada pekan ketiga Super League 2026/2027.
Mereka hadir sebagai bagian dari keluarga besar Green Force yang tengah merayakan capaian tiga kelompok usia sekaligus. Dari tribun GBT, para pemain muda menyaksikan bagaimana tim senior berjuang hingga pertandingan berakhir imbang 1-1.
Persebaya sempat unggul lebih dahulu melalui Alex Martins. Namun, Garudayaksa FC mampu menyamakan kedudukan sehingga kedua tim harus berbagi satu poin di hadapan Bonek dan Bonita.
Kehadiran tiga kelompok usia tersebut menjadi momen apresiasi setelah mereka berhasil membawa pulang tiga trofi Piala Soeratin Zona Jawa Timur. Direktur Amatir Persebaya, Saleh Hanifah, menyampaikan penghargaan atas perjuangan seluruh elemen yang terlibat dalam perjalanan tersebut.
"Pekan lalu, Persebaya berhasil menjuarai Zona Jawa Timur Piala Soeratin U-13, U-15, dan U-17. Ini merupakan hasil perjuangan bersama, mulai dari pengurus, manajer, pelatih, hingga pemain," ujar Saleh.
Tiga gelar tersebut sekaligus mencatatkan hattrick juara bagi Persebaya. Untuk pertama kalinya, Green Force berhasil menyapu bersih trofi Piala Soeratin Jawa Timur pada tiga kelompok usia dalam satu tahun penyelenggaraan.
Persebaya U-13, U-15, dan U-17 kini berhak membawa nama Jawa Timur ke tingkat nasional. Capaian tersebut menjadi kebanggaan tersendiri, sekaligus tanggung jawab baru bagi para pemain muda untuk kembali berjuang di level berikutnya.
"Seluruh tim menunjukkan perjuangan luar biasa. Alhamdulillah, tiga kelompok usia yang diikuti Persebaya mampu menjadi juara dan berhak mewakili Jawa Timur di tingkat nasional. Tentu ini menjadi kebanggaan sekaligus tanggung jawab bagi kami," jelas Saleh.
Di balik keberhasilan tersebut, terdapat proses pembinaan yang berjalan secara berkesinambungan. Persebaya memiliki kompetisi internal yang menjadi salah satu pintu awal bagi pemain muda untuk menunjukkan kemampuan sebelum melangkah ke jenjang berikutnya.
"Persebaya memiliki kompetisi yang berkesinambungan dan terus berjalan. Dukungan PT Persebaya Indonesia juga luar biasa. Sebelumnya, kami memang sudah rutin menggelar kompetisi internal," terangnya.
Dari kompetisi internal tersebut, pemain-pemain yang memiliki potensi kemudian diseleksi untuk memperkuat tim Piala Soeratin. Pemain yang terus berkembang memiliki kesempatan melanjutkan perjalanan ke Elite Pro Academy (EPA), sebelum nantinya berpeluang menembus tim profesional.
"Jadi, jalurnya sudah kami siapkan secara bertahap. Dari kompetisi internal itulah pemain-pemain terbaik diseleksi untuk masuk ke tim Piala Soeratin. Dari sana, pemain yang memiliki potensi bisa naik ke EPA. Kemudian, pemain yang berkembang di EPA memiliki kesempatan untuk masuk ke tim profesional," tambah Saleh.
Jalur tersebut menjadi bagian penting dari upaya Persebaya menjaga kesinambungan pembinaan pemain muda. Setiap kelompok usia memiliki tantangan masing-masing, tetapi seluruhnya diarahkan menuju tujuan yang sama: mencetak pemain yang siap berkembang ke level lebih tinggi.
Pelatih Persebaya U-15, Slamet Mujiono, turut mengapresiasi kerja keras anak asuhnya. Persebaya U-15 berhasil mengamankan gelar setelah melewati pertandingan final dengan perjuangan panjang hingga akhirnya menjadi yang terbaik di Jawa Timur.
"Persiapan kami berlangsung sekitar enam sampai sembilan bulan. Dalam waktu sepekan setelah kompetisi ini, kami manfaatkan untuk melakukan evaluasi terhadap kekurangan yang masih ada," kata Slamet.
Evaluasi menjadi penting karena perjuangan belum berhenti. Setelah menjadi juara Jawa Timur, Persebaya U-15 akan menghadapi tantangan yang lebih besar di tingkat nasional.
Hal serupa dilakukan Persebaya U-17. Pelatih Yongky Kastanya menyebut perjalanan timnya menjadi pengalaman penting bagi para pemain, terutama karena mereka harus menjalani pertandingan di luar Surabaya.
"Meskipun harus bermain di luar Surabaya, mereka mampu menunjukkan permainan dan mental yang baik. Setelah menjadi juara Jawa Timur, kami langsung melakukan evaluasi untuk mempersiapkan diri menghadapi tingkat nasional," ujar Yongky.
Bagi Persebaya, tiga trofi tersebut menjadi gambaran dari proses panjang yang terus dibangun. Prestasi di lapangan berjalan beriringan dengan pembinaan yang dimulai dari kompetisi internal dan terus berlanjut hingga jenjang profesional.
"Kami berharap jalur pembinaan ini terus berjalan sehingga pemain-pemain hasil kompetisi internal bisa berkembang secara bertahap sampai ke level profesional," tutur Saleh.
Sabtu malam di GBT pun menjadi cerita tersendiri bagi para pemain muda Persebaya. Mereka datang sebagai juara, melihat langsung seniornya berjuang di lapangan, dan membawa pulang pengalaman yang kelak bisa menjadi bagian dari perjalanan mereka sendiri. (*)