Setyawan (paling kiri) sedang foto bersama dengan Football Director Persebaya Academy, Robertino Pugliara, di Stadion GBT. (Dok. Setyawan)

Cinta kadang tumbuh dari hal yang tak terduga. Bukan karena jarak terdekat, bukan pula karena faktor geografis. Itulah yang terjadi pada Setyawan, Bonek asal Kabupaten Grobogan, Jawa Tengah.

Setiap kali rindu itu datang, Setyawan tahu harus ke mana melangkah. Dari Grobogan, ia naik kereta api menuju Stasiun Pasar Turi, Surabaya. Perjalanan berjam-jam ia tempuh hanya untuk satu tujuan, berdiri di tribun menyaksikan Persebaya bertanding di Gelora Bung Tomo.

Terkadang Setyawan berangkat sendiri. Duduk diam di kursi kereta, memandangi rel yang terus bergerak. Namun di lain waktu, ia mengajak teman-temannya. Bisa sampai enam orang beramai-ramai, menjadikan perjalanan itu seperti ziarah kecil menuju rumah kedua.

“Kadang saya nonton sendiri. Kadang ajak teman-teman, bisa sampai enam orang. Biar capeknya terasa ringan,” ujar Setyawan.

 

Bagi sebagian orang, mungkin aneh. Grobogan lebih dekat dengan Semarang. Secara logika, dukungan seharusnya mengarah ke tim terdekat seperti PSIS Semarang. Namun hati Setyawan justru tertambat di Surabaya.

Awalnya sederhana. Ia sering melihat orang tuanya menonton pertandingan sepak bola di televisi. Dari situlah kecintaannya pada sepak bola tumbuh. Namun momen yang benar-benar membekas datang pada musim 2004.

 

Saat itu Persebaya diperkuat pemain asing asal Tiongkok, Zhen Cheng, dan dinakhodai pelatih karismatik Jackson F. Tiago. Gaya main, karakter tim, hingga atmosfer tribun membuat hatinya jatuh.

“Sebenarnya yang dekat itu PSIS. Tapi entah kenapa saya jatuh cinta sama Persebaya sejak 2004. Waktu ada Zhen Cheng dan dilatih Coach Jackson. Dari situ mulai mengikuti terus,” kenangnya.

Cinta itu bertahan hingga kini. Meski kini ia sudah berkeluarga, istrinya asli Krian, Sidoarjo mereka memilih menetap di Jawa Tengah. Jarak makin jauh, tapi komitmennya tak pernah surut.

“Istri saya orang Krian, Sidoarjo. Sekarang kami tinggal di Jawa Tengah. Tapi kalau tidak ada tabrakan kerjaan, saya pasti berangkat ke GBT,” tegasnya.

Untuk satu kali perjalanan pulang-pergi, ia harus merogoh kocek hampir satu juta rupiah. Tiket kereta, konsumsi, tiket pertandingan. Nominal yang tidak kecil bagi seorang pekerja lapangan.

Setyawan sendiri sehari-hari adalah wasit futsal. Ia terbiasa memimpin pertandingan, meniup peluit, dan menjaga tensi tetap terkendali. Namun atmosfer yang ia rasakan di Surabaya tak pernah bisa ia temukan di tempat lain.

“Saya juga wasit futsal. Tapi beda sama sepak bola. Atmosfernya itu lho. Di Surabaya suporternya rame, apalagi kalau stadion penuh. Rasanya beda banget,” katanya.

 

Sebagai pengadil, ia paham bagaimana tekanan suporter bisa memengaruhi pertandingan. Tapi sebagai Bonek, ia justru menikmati tekanan itu. Ia larut di dalamnya.

“Capek perjalanan pasti ada. Tapi begitu masuk stadion, dengar nyanyian, lihat hijau di mana-mana, capeknya hilang. Uang bisa dicari lagi, tapi momen seperti itu nggak selalu ada,” ucapnya. (*)

Populer

Grobogan – Pasar Turi – GBT: Perjalanan yang Diulang Setyawan Demi Persebaya
Asah Finishing Jelang Laga Klasik
Ledakan Gali Freitas di Era Tavares
Dari Wonokromo untuk Sang Penjaga Gawang
Putus Tren Minor, Persebaya Bangkit di Momen Tepat
Bekuk PSM, Tren Negatif Persebaya Berakhir di GBT