Bek Persebaya, Arief Catur Pamungkas, memanfaatkan masa jeda kompetisi dengan menikmati kemeriahan Piala Dunia 2026. Di tengah persiapan menyambut musim baru, pemain yang akrab disapa Catur itu tetap meluangkan waktu untuk mengikuti perkembangan turnamen sepak bola terbesar di dunia tersebut.
Bagi Catur, Piala Dunia selalu menghadirkan suasana yang berbeda dibanding kompetisi lainnya. Turnamen empat tahunan itu menjadi panggung berkumpulnya pemain-pemain terbaik dari berbagai negara dengan kualitas pertandingan yang tinggi dan penuh kejutan.
Menurut pemain asal Mojokerto tersebut, Piala Dunia selalu menawarkan hiburan sekaligus pelajaran berharga bagi para pesepak bola.
"Piala Dunia selalu menghadirkan suasana yang seru. Kita bisa melihat pertandingan-pertandingan berkualitas dari berbagai negara dengan banyak gol dan permainan yang menarik untuk disaksikan," ujarnya.
Sebagai penggemar sepak bola, Catur memiliki tim favorit yang selalu ia dukung setiap kali Piala Dunia bergulir, yakni Timnas Jerman. Ia mengaku sudah mengikuti Die Mannschaft sejak lama karena menyukai karakter permainan yang mereka tampilkan.
Namun, perjalanan Jerman di Piala Dunia 2026 harus berakhir lebih cepat. Tim besutan Julian Nagelsmann tersingkir pada babak 32 besar setelah kalah dari Paraguay melalui adu penalti 3-4 pada Selasa (30/6) dini hari WIB. Sebelumnya, kedua tim bermain imbang 1-1 selama 120 menit.
"Sejak dulu saya mendukung Jerman. Saya suka cara bermain mereka yang mengandalkan kerja sama tim dan aliran bola dari kaki ke kaki. Itu yang membuat saya tertarik mengikuti Jerman sampai sekarang," tuturnya.
Meski kecewa dengan hasil tersebut, pemain berusia 26 tahun itu tetap memberikan apresiasi atas perjuangan yang ditunjukkan Jerman sepanjang turnamen.
"Tentu saya sedih karena Jerman harus berhenti lebih cepat. Tetapi dalam sepak bola, hasil seperti ini adalah bagian dari permainan. Saya tetap bangga dengan perjuangan mereka dan berharap bisa kembali lebih kuat di turnamen berikutnya," ucapnya.
Selain mengikuti perjalanan tim favoritnya, Catur juga memperhatikan sejumlah pemain yang menjadi referensi dalam pengembangan permainannya sebagai bek.
Salah satu pemain yang menarik perhatiannya adalah bek Timnas Prancis, Jules Kounde. Menurut Catur, sang pemain memiliki kualitas yang patut dicontoh, baik dari sisi bertahan maupun saat membantu serangan dan kebetulan ia dan Kounde sama-sama bermain di posisi bek sayap.
"Kalau pemain yang saya perhatikan ada Jules Kounde dari Prancis. Saya suka gaya bermainnya," ungkapnya.
Di antara banyak pertandingan yang telah berlangsung, laga Amerika Serikat melawan Turki menjadi salah satu yang paling membekas dalam ingatan Catur. Pertandingan tersebut berakhir dengan kemenangan Turki 2-3 setelah kedua tim saling berbalas gol sepanjang laga.
"Saya sempat menyaksikan pertandingan Amerika Serikat melawan Turki yang berakhir 2-3. Pertandingannya seru karena kedua tim saling berbalas gol. Momen seperti itu yang membuat Piala Dunia selalu menarik untuk diikuti," jelasnya.
Sebagai pemain profesional, Catur menilai Piala Dunia bukan hanya menjadi hiburan, tetapi juga sarana belajar. Ia banyak memperhatikan bagaimana para pemain top dunia menjaga performa dan menunjukkan profesionalisme di level tertinggi.
"Hal yang paling bisa dipelajari dari pemain-pemain top dunia adalah profesionalisme mereka. Mulai dari menjaga kondisi fisik, disiplin dalam berlatih, hingga terus berusaha meningkatkan kemampuan dari waktu ke waktu," pungkasnya. (*)