Gelar juara Piala Soeratin 2026 sudah berada di depan mata, tetapi perjuangan Persebaya U-17 berakhir dengan hasil yang menyakitkan. Sempat unggul lebih dahulu, Green Force muda akhirnya takluk 1-2 dari Waamanat Bhintuka FC U-17 pada partai final di PSSI Training Center, Ibu Kota Nusantara, Sabtu (24/10). Hasil ini membuat Persebaya harus puas menempati posisi runner-up.
Persebaya mengawali pertandingan dengan penuh semangat. Upaya Green Force muda membangun serangan membuahkan hasil melalui sundulan Sebastian Pratama Panjaitan yang gagal diantisipasi barisan pertahanan Waamanat Bhintuka FC. Gol tersebut membawa Persebaya unggul 1-0 dan membuka harapan untuk mengakhiri turnamen dengan gelar juara.
Namun, situasi pertandingan berubah pada menit ke-30. Persebaya harus melanjutkan laga dengan 10 pemain setelah bek Benny Rachmad menerima kartu merah langsung dari wasit. Kehilangan satu pemain membuat perjuangan anak asuh Yongki Kastanya semakin berat, terlebih mereka harus menghadapi lawan yang mampu memanfaatkan keunggulan jumlah pemain.
Waamanat Bhintuka FC mulai meningkatkan tekanan dan berusaha memanfaatkan ruang di pertahanan Persebaya. Memasuki babak kedua, tekanan tersebut membuahkan hasil. Waamanat menyamakan kedudukan pada menit ke-49 sebelum mencetak gol kedua pada menit ke-64 untuk membalikkan keadaan menjadi 2-1.
Persebaya berusaha mencari jalan untuk mengejar ketertinggalan di sisa waktu pertandingan. Namun, hingga peluit panjang dibunyikan, skor tidak berubah. Green Force muda pun harus menerima kenyataan mengakhiri perjalanan di Piala Soeratin 2026 sebagai runner-up.
Selepas pertandingan, pelatih Persebaya U-17 Yongki Kastanya mengakui bahwa bermain dengan 10 pemain sejak babak pertama menjadi tantangan besar bagi timnya. Para pemain harus bekerja ekstra untuk menjaga keseimbangan permainan sekaligus menghadapi tekanan lawan.
“Situasinya tentu tidak mudah ketika kami harus bermain dengan 10 pemain sejak babak pertama. Anak-anak sudah berusaha bertahan dan menjalankan instruksi, tetapi kondisi tersebut membuat perjuangan kami semakin berat. Saya tetap mengapresiasi kerja keras mereka sampai akhir pertandingan,” ujar Coach Yongki.
Waamanat Bhintuka FC kembali menjadi batu sandungan bagi Persebaya U-17. Sebelumnya, kedua tim bertemu pada babak delapan besar, ketika Persebaya harus mengakui keunggulan lawan dengan skor 0-4. Kekalahan di fase tersebut sempat menjadi catatan bagi Green Force muda sebelum akhirnya kembali berhadapan dengan Waamanat di partai puncak.
Dalam pertemuan final, Persebaya sempat menunjukkan perlawanan dengan mencetak gol lebih dahulu. Namun, kartu merah pada menit ke-30 mengubah jalannya pertandingan dan memberi Waamanat kesempatan untuk mengambil alih kendali permainan.
Coach Yongki mengakui kualitas Waamanat serta kemampuan lawan memanfaatkan keunggulan jumlah pemain. Menurutnya, pengalaman tersebut menjadi bahan evaluasi penting bagi Persebaya U-17 untuk memperbaiki diri ke depan.
“Waamanat merupakan tim yang kuat dan mampu memanfaatkan situasi ketika unggul jumlah pemain. Kami harus belajar dari pertandingan ini, terutama bagaimana menjaga organisasi permainan saat menghadapi kondisi sulit. Hasilnya memang mengecewakan, tetapi para pemain harus mengambil pelajaran dari pengalaman ini,” jelas Coach Yongki. (*)