Skuad Persebaya ketika sedang berkumpul di Lapangan C Stadion Gelora Bung Tomo, Selasa (21/7). (Persebaya)

Setelah menjalani laga pramusim perdana dalam tajuk 99th Anniversary Game melawan PSIS Semarang yang berakhir imbang 2-2, skuad Persebaya mendapatkan waktu istirahat selama satu hari untuk memulihkan kondisi fisik. Namun, masa recovery tidak dijalani begitu saja. Tim pelatih dan tim medis tetap melakukan pemantauan secara menyeluruh guna memastikan para pemain berada dalam kondisi optimal.

Pada Selasa (21/7), para penggawa Bajol Ijo kembali berkumpul di Lapangan C Stadion Gelora Bung Tomo untuk menjalani sesi pemulihan. Selain recovery di lapangan, tim kepelatihan juga melakukan serangkaian evaluasi fisik menggunakan pendekatan berbasis data guna melihat respons tubuh pemain setelah pertandingan.

Pelatih fisik Persebaya, Diogo Carvalho, menjelaskan bahwa pemantauan kondisi pemain menjadi bagian penting dalam proses persiapan tim. Terlebih, intensitas latihan dan pertandingan yang semakin meningkat menuntut setiap pemain berada dalam kondisi fisik terbaik.

Salah satu metode yang digunakan dalam sesi recovery kali ini adalah Counter Movement Jump (CMJ) Test, sebuah tes yang berfungsi untuk mengukur kapasitas neuromuskular, tingkat kelelahan, hingga kesiapan pemain dalam menjalani program latihan berikutnya.

"Tes CMJ menjadi salah satu instrumen penting bagi kami untuk memantau kondisi fisik pemain. Melalui tes ini, kami bisa mendapatkan data yang akurat mengenai kapasitas neuromuskular, tingkat kelelahan, serta kesiapan pemain untuk menjalani latihan maupun pertandingan," tutur Coach Diogo.



Menurut pelatih asal Portugal tersebut, setiap pemain telah memiliki data dasar yang dikumpulkan sejak awal masa persiapan. Hasil tes terbaru kemudian dibandingkan dengan data acuan tersebut untuk melihat perubahan kondisi yang terjadi setelah pemain menjalani pertandingan.

"Kami memiliki data awal atau nilai acuan dari setiap pemain. Setelah itu, hasil tes akan dibandingkan dengan data tersebut untuk melihat perubahan kondisi fisik mereka. Dari sana kami bisa mengetahui apakah pemain berada dalam kondisi optimal, mengalami kelelahan, atau memiliki risiko cedera," imbuhnya.

Dalam pelaksanaan tes tersebut, Persebaya turut memanfaatkan teknologi VALD Performance, perangkat yang selama ini digunakan untuk mendukung proses pengukuran performa atlet secara objektif dan akurat.

Muhammad Nur Rofik, Performance Coach DBL Academy yang turut mendampingi pelaksanaan CMJ Test, menjelaskan bahwa teknologi tersebut memungkinkan tim mendapatkan data yang jauh lebih rinci dibandingkan pengamatan secara visual.

"Melalui sistem VALD Performance, kami bisa memperoleh data yang cukup lengkap. Tidak hanya tinggi lompatan, tetapi juga peak power atau daya ledak maksimum yang dihasilkan pemain saat melakukan lompatan," ujarnya.

Data yang diperoleh dari perangkat tersebut kemudian menjadi bahan analisis untuk melihat kondisi fisik masing-masing pemain secara lebih detail.

"Kami dapat melihat dua jenis data peak power, yaitu nilai absolut dan nilai relatif terhadap berat badan pemain. Dari data tersebut, kami bisa mengetahui kapasitas fisik masing-masing pemain secara lebih detail dan objektif," ungkapnya.

CMJ Test dipilih karena dinilai sangat relevan dengan karakteristik permainan sepak bola yang didominasi aktivitas anggota tubuh bagian bawah, seperti berlari, berakselerasi, melompat, hingga melakukan perubahan arah.

"Dalam sepak bola, sebagian besar aktivitas fisik melibatkan anggota tubuh bagian bawah. Gerakan pada tes CMJ memiliki mekanisme yang cukup merepresentasikan tuntutan permainan, sehingga sangat relevan digunakan untuk mengukur kapasitas fisik pemain sepak bola," tandasnya.

Rofik menambahkan, waktu pelaksanaan tes juga menjadi faktor penting. Dengan dilakukan pada H+2 setelah pertandingan, tim pelatih dapat melihat secara lebih jelas bagaimana respons tubuh pemain setelah menerima beban pertandingan.

"Tes kali ini dilakukan pada H+2 setelah pertandingan, sehingga kami bisa melihat bagaimana respons fisik pemain setelah menjalani beban kompetisi. Hasilnya bisa meningkat atau menurun, tergantung kondisi masing-masing pemain. Dari situ kami membuat catatan dan rekomendasi yang kemudian menjadi bahan evaluasi bagi tim pelatih dan tim medis," jelasnya.

Persebaya pun tidak memiliki banyak waktu untuk beristirahat. Setelah menjalani agenda pramusim pertama, Green Force sudah ditunggu tantangan berikutnya di ajang Piala Presiden 2026.

Dalam turnamen tersebut, Persebaya tergabung di Grup B bersama tim asal Thailand Port FC, serta dua klub Indonesia, PSMS Medan dan Persija Jakarta.

Ajang pramusim tersebut akan menjadi kesempatan penting bagi tim pelatih untuk mengukur perkembangan skuad sekaligus mematangkan berbagai aspek permainan sebelum kompetisi resmi musim 2026/2027 dimulai. (*)

Populer

Yann Mabella Rasakan Magis Bonek dan Bonita
Persebaya Evaluasi Kondisi Fisik Pemain dengan CMJ Test
Citicon Live Mural Warnai 99th Anniversary Game di Stadion GBT
Kapal Api Pitch Side Experience Hadirkan Cara Baru Menikmati Persebaya
Persebaya Youthcon 2026 Tuntas Digelar, Ratusan Talenta Muda Bersinar
Coach Tavares Pilih Lihat Perkembangan Tim Ketimbang Hasil Akhir